Selasa, 17 Mei 2016


DISUSN OLEH :
KELOMPOK II
1.    KISWANI
2.    IDA FADILA
3.    NURHALIJA
4.    MAULIDYA

    DOSEN PENGAJAR
Drs.FAKHRI, S.Sos, M.A
                           JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
   FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
                                    TAHUN 2015/2016
GERAKAN JAMA’AH TABLIGH
OLEH
KELOMPOK II
A.    PENDAHULUAN
                                                                                                                 
Jamaah Tabligh merupakan pergerakan Islam yang mendunia, hal ini menjadi fenomena perjuangan Islam di jaman sekarang ini. Saya melihat fenomena pergerakan Jamaah Tabligh ini sangat cepat dan mudah diterima oleh pengikutnya. Jamaah Tabligh telah menjadi kelompok Islam tidak hanya di Indonesia di setiap Negara Jamaah ini ada.
Gerakan islam yang bernama Jamaah Tabligh ini menimbulkan dua perspektif di kalangan ulama, hal ini merupakan hal biasa. Karena setiap perspektif ulama atau orang pastilah berbeda-beda tidak selalu sama. Saya akan mengungkap Jamaah ini termasuk kelompok yang ke arah menyimpang atau kelompok yang tidak menyimpang.
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya hanyalah salah satu sekuen dari perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh kapitalisme dan modernisme.   
Jamaah Tabligh adalah merupakan potret  gerakan dakwah islam kekinian yang bersifat lintas negara. Islam yang terlihat pada wajah Jamaah Tabligh adalah santun, rendah hati, dan cenderung menghindar khilafiyah (perbedaan pendapat). Para aktivitas Jamaah Tabligh (karkun) secara rajin dan berkesinambungan berkhuruj (keluar) untuk menyampaikan dakwah Islam dengan cara yang menarik, agar Islam menjadi sistem hidup para pemeluknya di dalam kehidupan sehari-hari. Agar pemeluk agama Islam melaksanakan ajaran Islam secara kaffah, secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong, terutama mereka yang paling giat meramaikan shalat di masjid, perkembangan Jamaah Tabligh di Indonesia sering di anggap sesat dan menyalahi ajaran Islam.[1]
B.     SEJARAH BERDIRI SEKALIGUS PENDIRI JAMA’AH TABLIGH
Jamaah Tabligh ("Kelompok Penyampai") (bahasa Arab: التبليغ جماعة) adalah gerakan dakwah Islam dengan tujuan kembali ke ajaran Islam yang kaffah (sempurna). Aktivitas mereka tidak hanya terbatas pada golongan Islam saja. Tujuan utama gerakan ini adalah membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim. Jamaah Tabligh merupakan pergerakan non-politik terbesar di seluruh dunia.[2].
Berbicara sejarah sebuah gerakan Islam, pastinya lebih mengutamakan sejarah dari tokoh pendirinya itu, karena dari tokoh yang mendirikan suatu gerakan atau organisasi memegang peran penting, sejarah Jamaah Tabligh didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muahammad Ilyas bin Muhammad Ismail al-Kandahlawi al-Deoband al-Jisti [3] di Mewat, sebuah provinsi di India. Kandahlawi adalah nisbat kepada sebuah kampung yang  beranama Kandahla di Saharanpur India[4]. Dia lahir pada tahun pada tahun 1303 H. Deobandi adalah nisbat kepada Deoband, salah satu madrasah terbesar bagi pengikut mazhab Hanafi di India. Madrasah ini didirikan pada tahun 1283 H. Muhammad Ilyas menghabiskan masa kecilnya di Kandala, sebuah desa di kawasan Muzhaffar naghar di wilayah Uttarpradesh, India. Ayahnya bernama Muhammad Ismail, tinggal di Nizhamuddin, New Delhi, India yang kemudian menjadi markas besar Jamaah ini. Muhammad Ilyas meninggal pada tahun 1364 H.[5].
Muhammad Ilyas tumbuh berkembang di lingkungan keluarga sangat agamis dan dengan tradisi keilmuan yang sangat kental. Ayahnya, Muhammad Ismail adalah seorang penganut tasawuf yang sangat abid dan zahid. Dia telah mengabdikan hidupnya dalam ibadah dan tidak lagi terlalu disibukkan dengan urusan dunia. Hari-harinya disibukkan dengan Al-Quran.
Muhammad Ilyas telah hafal Al-Quran dalam usia yang sangat muda. Dia belajar kepada kakak kandungnya sendiri yang bernama Syaikh Muhammad Yahya. Selesai itu, dia belajar di madrasah Mahahirul Ulum, di kota Saharanpur. Dan pada tahun 1326 H, di berangkat ke Deoband. Sekolah ini terbesar untuk pengikut  Imam Hanafi di anak benua India yang didirikan pada tahun 1283 H/1867 M. Di sini dia belajar hadist Jami Shahih Turmudzi dan Shahih Bukhari dari seorang alim yang bernama Mahmud Hasan. Kemudian melanjutkan belajar Kutub al-Sittah pada kakaknya sendiri, Muhammad Yahya yang wafat pada tahun 1334 H.[6]
Setelah belajar di Deoband dia ditugaskan sebagai tenaga pengajar di madrasah Madhairul Ulum pada tahun 1328. Setelah itu dia kembali ke tempat kelahirannya pergi ke hijaz, Saudi Arabia, untuk menunaikan haji. Sebagai seorang yang memliki kepedulian yang sangat tinggi pada kelangsungan ajaran Islam, kesempatan menuaikan ibadah haji ini dia gunakan untuk
bertemu dengan berbagai kalangan ulama untuk memperbicangkan cara pengembangan terbaik dakwah Islam di India khusunya[7].
Dia pergi ke Madinah dan tidur di masjid Nabawi selama tiga malam. Di saat itu dia puasa, shalat dan berdoa meminta petunjuk pada Allah jalan terbaik untuk kelanjutan dakwah Islam. Kemudian kembali ke India dan memikirkan apa sebenarnya yang telah membuat umat Islam kehilangan roh Islamnya yang hakiki. Pada saat itu umat Islam India sedang mengalami kerusakan akidah dan degredasi moral yang sangat dahsyat. Umat Islam sudah tidak akrab lahi dengan syiar-syiar Islam.
Di samping itu, terjadi percampuran antara yang hak dan yang batil, antara iman dan syirik, antara sunah dan bid’ah. Lebih dari itu, juga telah terjadi gelombang permusryikan dan permutadan didalangi oleh para misionaris Kristen di mana Inggris saat itu sedang bercokol menjajah India. Gerakan misionaris yang didukung Inggris dengan dana yang sangat besar itu telah berusaha membolak-balikkan kebenaran Islam, dengan menghujat ajaran-ajarannya dan mendeskriditkan Rasulullah Saw. Bagaimana membendung kristenisasi dan mengembalikan kaum Muslimin yang “lepas” ke dalam pangkuan Islam? Itulah yang menjadi kegelisahan Muhammad Ilyas.
Akhirnya Syaikh Ilyas melihat, kelangsungan sebuah dakwah dan penyebarannya tidak akan terwujud kecuali dakwah itu berada di tangan-tangan orang yang benar-benar rela dan ikhlas berkorban demi kepentingan dakwah hanya mengaharapkan sepenuhnya ridha Allah tanpa menggantungkan diri bantuan dari manapun. Gerakan ini lebih menekankan meminta pengorbanan waktu kaum Muslimin dengan melakukan Khuruj (keluar) di jalan Allah untuk berdakwah daripada memnita pada mereka bantuan uang dan materi.
Di sinilah bagian yang menarik jamaah ini, dari mana pengorbanan menjadi salah satu tiang utama dalam berdakwah. Bahkan dalam setiap perjalanan dakwah itu, semua keperluan ditanggung oleh masing-masing da’i yang bersangkutan.
Sepeninggal Syaikh Muhammad Ilyas Kandahlawi, kepemimpinan jamaah tabligh diteruskan oleh puteranya, Syaikh Muhammad Yusuf Kandahlawi (1917-1965), ia dilahirkan di Delhi, dalam mencari ilmu ia sering berpindah-pindah tempat dan guru sekaligus menyebarkan dakwah. Ia wafat di Lahore dan jenazahnya dimakamkan di samping orang tuanya di Nizham al-Din, Delhi. Kitabnya yang terkenal adalah Amani Akhbar, berupa komentar kitab Ma’ani al-Atsar, karya Syaikh Thahawi dan Hayat al-Shahabah. Kemudian penyebaran Jamaah Tabligh dilanjutkan oleh Amir yang ketiga yaitu In’am Hasan.
Nama Jamaah Tabligh hanyalah merupakan sebutan bagi mereka yang sering meyampaiakan, sebenarnya usaha ini tidak mempunyai nama tetapi cukup islam saja tidak ada yang lain. Bahkan Muhammad Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama “gerakan iman”. Ilham untuk mengabdikan hidupnyatotal hanya untuk islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan ibadah haji keduanya di Hijaz pada tahun 1926. Maulana Ilyas menyerukan slogannya, “Aye Musalmano!” Musalman bano” (dalam bahasa urdu), yang artinya “Wahai Umat muslim! Jadilah yang kaffah (menunaikan semua rukun dan syariah seperti yang dicontohkan Rasulullah).[8]Tabligh resminya bukan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim yang menjalankan agamanya dan hanya satu-satunya gerakan islam yang tidak memandang asal-usul mazhab atau aliran pengikutnya.
Jamaah ini muncul di India, kemudian tersebar ke Pakistan dan Bangladesh, negara-negara Arab dan keseluruh dunia. Di antara negara-negara yang banyak pengikutnya yaitu Mesir, Sudan, Irak, Bangladesh, Pakistan, Suriah, Yordania, Palestina, Libanon. Pimpinan pusatnya berkantor di Nizhamuddin, Delhi.
Dalam waktu kurang dari dua dekade, Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia Selatan. Dengan dipimpin Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara.

C.    PERKEMBANGAN GERAKAN JAMAAH TABLIGH
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya hanyalah salah satu gerakan dari perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggakan oleh kapitalisme dan modernisme.  
Meskipun demikian, Jamaah Tabligh tetap menimbulkan kontroversi. Sebagian kalangan menuduh kelompok ini  adalah bagian dari jaringan Islam garis keras. Namun, sebagian lainnya, justru berpendapat berbeda. Jamaah Tabligh  dianggap semata-mata komunitas dakwah yang bersifat apolitis. Adanya perbedaaan pandangan yang sangat tersebut menunjukkan komunitasnya ini. sesungguhnya belum banyak dieksplorasi sehingga tidak mudah dipahami. Hal ini sebenarnya wajar, mengingat komunitas ini relatif kurang terbuka kepada public.[9]
Jamaah Tabligh di Indonesia meski tak sepopuler organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah atau NU, namun Jamaah Tabligh terbilang mempunyai anggota yang cukup banyak. Anggota Jamaah Tabligh di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari artis sampai dengan tentara, kalangan profesional dan lain-lain. Pusat markas Jamaah Tabligh di Indonesia berada di Jakarta, khususnya di masjid Masjid Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota.
Di masjid yang sudah berusia lebih dua abad ini, kita akan menjumpai ratusan jamaah yang hampir seluruhnya berjenggot. Jamaah Tabligh ini berkumpul rutin setiap malam jum’at, hanya pada malam itu mereka berkumpul di masjid tua di Kebon Jeruk. Mereka juga menggunakan surban, pakaian takwa dan peci putih, yang biasa dipakai umat Islam di Indonesia. Tapi kita juga akan mendapati jamaah yang memakai surban dengan baju panjang sampai lutut, untaian tasbih atau tongkat di tangan, janggut berjenggot, dahi hitam, dan aroma minyak cendana, khas jamaah dari Asia Timur.
Di Indonesia, Tabligh juga telah menyentuh hati Sakti, personel band Sheila on 7. Pada tahun 2006, dia telah keluar selama empat bulan ke Markas International Tabligh di Nizzamudin, New Delhi, India. Dia telah berhenti bermusik, dan memilih menjalankan amalan amalan maqami dan amalan intiqali dengan sangat intensif. [10]
Dan setelah itu ada juga Vokalis dari Nineball band,Ray.selain itu pula ada Lukman hakim-gitaris Peterpan. Dan banyak lagi yang bisa jadi panutan.termasuknya pedangdut Saiful Jamil.[11]

D.    AJARAN-AJARAN ATAU PEMIKIRAN JAMAAH TABLIGH
Oleh pendiri Jama’ah telah ditetapkan 6 prinsip yang menjadi asas da’wahnya yaitu:
1. Kalimah agung (merealisasikan syahadat).
2. Menegakkan shalat dengan khusyuk.
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan setiap Muslim.
5. Ikhlas.
6. Berjuang fi sabilillah.
a.       Merealisasikan syahadat La ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah.
Menurut Jamaah Tabligh, iman berarti membenarkan perkataan seseorang dengan pasti karena percaya kepadanya. Secara istilah iman adalah membenarkan semua yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw, dengan begitu saja tanpa, melihat secara langsung karena percaya dan yakin terhadapnya. Sebagai mana yang diterangkan dalam Q.S.Al-Anbiya (21):25.

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku".
Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan memasukan keyakinan yang benar terhadap Dzat yang Mencipta, Pemberi rezeki, Pemberi manfaat, Pemberi bahya, Memuliakan, Menghinakan, Menghidupkan, Mematikan, Penahan. Mereka memahami kalimat tauhid semakna dengan tauhid Rububiyyah[12].
Adapun tentang pemaknaan La ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah dengan pernyataan bahwa hal itu untuk mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda yang mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan memasukkan yang benar terhadap Dzat Allah, maksudnya manusia yang menyakini Allah dan mengeluarkan keyakinan dari selain-Nya sebagaimana ayat :
“Niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka jahanam, dan sesunguhnya benar-benar akan melihatnya dengan pendangan yang menimbulkan keyakinan”[13]
b.      Shalat dengan Khusyu’.
Dapat mengambil manfaat dari qudratullah (kuasa Allah) secara langsung, maka wajib melaksanakan perintah Allah berdasarkan pentunjuk Rasulullah. Perintah yang paling penting dan sebagai asas adalah menegakkan shalat dengan khusyu. Khusyu adalah takut di dalam hati dan ketenangan pada anggota tubuh.[14]Jamaah Tabligh sangat memperhatikan menunaikan shalat bagaimanapun kondisi sibuknya. Perkara ini dituntut kepada stiap muslim dan pelakunya akan diberi pahala oleh Allah dengan cara mempelajari dan mengamalkan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya dan hukum-hukumnya.
c.       Ilmu. Dan zikir
Untuk dapat mengambil manfaat dari Allah secara langsung perlu mematuhi semua perintah-Nya menurut cara Nabi Muhammad SAW, hal ini dapat terwujud dengan berusaha mendapatkan ilmu Ilahi. Ilmu merupakan harta yang kekal bagi manusia. Bagi Jamaah Tabligh ilmu tentang hukum-hukum dan masalah-masalah fiqih serta ilmu tauhid, maka mereka perhatikan dan menghargai[15].
Dalam menjelaskan tentang ilmu, Jamaah Tabligh mentamsilkannya dengan tingkat kualitas tanah. Tanah ada tiga macam kualitas begitu juga manusia. Jenis tanah yang pertama adlah yang bisa mengambil manfaat dari air, sehingga bisa hidup kembali setelah tadinya mati. Ia pun bisa menumbuhkan tanaman, sehingga manusia an hewan dapat memanfaatkannya. Jenis manusia pertama adalah manusia yang memperoleh petunjuk dari ilmu. Jenis tanah yang kedua adalah yang tidak dapat memperoleh manfaat ntuk dirinya, akan masih berfaedah, yaitu menampung air untuk  makhluk-makhluk lain. Sehingga manusia dan hewan hanya dapat memperoleh manfaat.
Demikian juga jenis manusia yang kedua yaitu mereka yang memiliki hati yang bagus hafalannya, namun tidak memiliki pikiran yang cerdas, mereka juga tidak mempunyai kesungguhan dalam mengamalkannya. Jenis manusia ini memberikan manfaat kepada orang lain dengan ilmu yang mereka peroleh. Jenis manusia yang ketiga adalah mrerka yang tidak memiliki hati yang bagus. Ketika mereka mendengar suatu ilmu mereka tiak dapat memperoleh manfaat darinya hingga tidak dapat memberi manfaat pada yang lain, hal itu layaknya tanah yang gersang.[16]
e.       memuliakan setiap muslim
Ikramul Muslimin (lemah lembut terhadap kaum muslim) adalah melaksanakan perintah Allah yang berhubungan dengan hamba-hambanya dengan berpedoman pada petunjuk Nabi Muhammad Saw., dan menjaga kehormatan umat islam. Orang islam adalah orang-orang yang tunduk dam lembut perangainya dan mereka sangat patuh terhadap perintah dan larangan Allah.[17][17]
    f. Memperbaiki Niat.
Niat adalah melaksanakan segala perintah Allah untuk mencari keridhaan allah semata dan agar amal bersih dari riya dan ingin dikenal orang. Setiap orngan islam diwajibkan beramal dengan yakin terhadap apa yang telah dijanjikan Allah disertai rasa rindu penuh harap akan pahala dan balasan dari sisi Allah. Mencari keridhaan Allah (ihtisab) dalam mengerjakan amal-amal shalih dan mengahadapi kesusahan merupakan sikap bersegera mencari pahala. Cara mendapatkannya adalah dengan tunduk berserah diri kepada Allah[18][18].

g.     Khuruj di jalan Allah
Untuk memperbaiki keyakinan dan amal pada diri seseorang dan seluruh umat manusia perlu adanya usaha menghidupkan kerja Nabi Muhammad Saw., ke seluruh alam sesuai dengan cara beliau, yakni melalui metode keluar untuk berdakwah dan tabligh[19][19]
Metode da’wah mereka menempuh jalan berikut :
1.      Sebuah kelompok dari kalangan Jama’ah, dengan kesadaran sendiri, bertugas melakukan da’wah kepada penduduk setempat yang dijadikan obyek da’wah. Masing-masing anggota kelompok tersebut membawa peralatan hidup sederhana dan bekal serta uang secukupnya. Hidup sederhana merupakan ciri khasnya.
2.       Begitu mereka sampai ke sebuah negeri atau kampung yang hendak dida’wahi, mereka mengatur dirinya sendiri. Sebagian ada yang membersihkan tempat yang akan ditinggalinya dan sebagian lagi keluar mengungjungi kota, kampung, pasar dan warung-warung, sambil berdzikir kepada Allah. Mereka mengajak orang-orang mendengarkan ceramah atau bayan (menurut istilali Jama’ah)
3.       Jika saat bayan tiba, mereka semua berkumpul untuk mendengarkannya. Setelah bayan selesai, para hadirin dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang da’i dari Jama’ah. Kemudian para da’i tersebut mulai mengajari cara berwudhu’, membaca fatihah, shalat atau membaca al-Qur’an. Mereka membuat halaqat-halaqat seperti itu dan diulanginya berkali-kali dalam beberapa hari.
4.      Sebelum mereka meninggalkan tempat da’wah, masyarakat setempat diajak keluar bersama untuk menyampaikan da’wah ke tempat lain. Beberapa orang secara sukarela menemani mereka selama satu sampai 3 hari atau sepekan, bahkan ada yang sampai satu bulan. Semua itu dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing sebagai realisasi firman Allah:
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan ke tengah-tengah manusia.” (Q.S, Ali ‘Imran : 110)
5.      Mereka menolak undangan walimah (kenduri) yang diselenggarakan penduduk setempat. Tujuannya agar tidak terganggu oleh masalah-masalah di luar da’wah dan dzikir serta amal perbuatan mereka tulus karena Allah semata.
6.      Dalam materi da’wah, mereka tidak memasukkan ide penghapusan kemungkaran. Sebab, mereka meyakini bahwa sekarang ini masih berada dalam tahap pembentukan kondisi kehidupan yang Islami. Perbuatan mendobrak kemungkaran, selain sering menimbulkan kendala dalam perjalanan da’wah mereka, juga membuat orang lari.
7.       Mereka berkeyakinan, jika pribadi-pribadi telah diperbaiki satu persatu, maka secara otomatis kemungkaran akan hilang.
8.      Keluar, tabligh dan da’wah merupakan pendidikan praktis untuk menempa seorang da’i. Sebab seorang da’i harus dapat menjadi qudwah dan harus konsisten dengan da’wahnya.
Mereka memandang taqlid kepada madzhab tertentu adalah wajib.Konsekwensinya mereka melarang ijtihad dengan alasan sekarang ini tidak ada ulama yang memenuhi syarat sebagai seorang Mujtahid. Demikian apa yang saya susun mudah – mudahan akan menjawab semua penasaran kita terhadap jamaah yang sangat mengejutkan kita di ini. Hendaknya kita perlu mnegambil manfaat dari setiap hal yang terjadi fenomena ini mudah – mudahan sanggup membangkitkan adrenalin kita khususnya para dai.


E.     KESIMPULAN
Jamaah Tabligh merupakan gerakan Islam yang telah mendunia. Sejak kemunculannya di India gerakan ini tetap berada pada perbaikan invidu sebagai fokus utama. Sarana yang digunakan oleh Jamaah Tabligh adalah para penggerak dakwahnya itu sendiri. Aktivitas dakwah dibawa secara langsung oleh anggotanya ke berbagai daerah di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, Jamaah Tabligh telah tersebar luas. Penyebaran misi ajarannya disampaikan langsung oleh anggotanya hingga ke pintu rumah objek dakwah mereka.Pada konsep pemikiran yang dibawa oleh Jamaah Tabligh, kehidupan adalah sebuah aktivitas peribadahan. Cara menjalani hidup terbaik adalah dengan terus meningkatkan nilai ibadah dalam kehidupan manusia. Selain terus memperbaiki akhlak dan ibadah, mengajak orang lain untuk ikut berdakwah di jalan Allah adalah salah satu nilai yang cukup penting. Konsep lainnya yang khas dari gerakan dakwah ini adalah pemunculan nilai spiritual dalam setiap aktivitasnya, ibadah yang utama adalah ibadah yang terdapat pada enam sifat sahabat yang menjadi ajaran pokok Jamaah Tabligh.
Metode dakwah yang dibawa oleh Jamaah Tabligh sangat fleksibel dan mudah diterima. Banyak tantangan terhadap pergerakan dakwah Jamaah Tabligh, hujatan yang sering berasal dari ulama salafi ternyata ajaran Jamaah Tabligh tidak menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw.









DAFTAR PUSTAKA

 Khalimi, ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung       Persada Press, 2010),
Sayid Thalibur Rahman, Jamaah Tabligh Fi Syibhil Qaraah Hindiyah,
www.hidayatullah.com          
 Majalah As-Sunnah , Edisi 01/Tahun VII/1432H/2003
 H As’ad Said Ali, Islamisme Jamaah Tabligh, lihat di www.nu.or.i
 Q.S. Al-Takatsur {102}:6-7
 Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat    Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
Waqafat ma’a Jama’at al-Tabligh, Nazar Al-Jarbu’.                                                      




[1]  Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 199.
[2] Ibid. , hlm. 199.
[3] Al-Jisti adalah nisbat kepada salah satu thariqat sufi bernama Jistiyyah. Silsilah thareqat tersebut dimulai dari India, dari seorang sufi bernama Khawaja Mu’inuddin Al-Jisti.
[4] Sayid Thalibur Rahman, Jamaah Tabligh Fi Syibhil Qaraah Hindiyah, hlm. 19.
[5]  www.hidayatullah.com
[6] Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 200.
[7] Majalah As-Sunnah , Edisi 01/Tahun VII/1432H/2003
[8] Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[9] H As’ad Said Ali, Islamisme Jamaah Tabligh, lihat di www.nu.or.id
[10]. Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[11] www.wikipedia.com
[12] Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 205.
[13] Q.S. Al-Takatsur {102}:6-7.
[14] Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006), hlm. 15.
[15] Waqafat ma’a Jama’at al-Tabligh, Nazar Al-Jarbu’. Hlm. 5-6.
[16] Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006), hlm. 131.

[17]Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006), hlm. 246.
[18] ibid, hlm. 243.
[19] ibid, hlm. 545. 
DISUSN OLEH :
KELOMPOK II
1.    KISWANI
2.    IDA FADILA
3.    NURHALIJA
4.    MAULIDYA

    DOSEN PENGAJAR
Drs.FAKHRI, S.Sos, M.A
                           JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
   FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
                                    TAHUN 2015/2016
GERAKAN JAMA’AH TABLIGH
OLEH
KELOMPOK II
A.    PENDAHULUAN
                                                                                                                 
Jamaah Tabligh merupakan pergerakan Islam yang mendunia, hal ini menjadi fenomena perjuangan Islam di jaman sekarang ini. Saya melihat fenomena pergerakan Jamaah Tabligh ini sangat cepat dan mudah diterima oleh pengikutnya. Jamaah Tabligh telah menjadi kelompok Islam tidak hanya di Indonesia di setiap Negara Jamaah ini ada.
Gerakan islam yang bernama Jamaah Tabligh ini menimbulkan dua perspektif di kalangan ulama, hal ini merupakan hal biasa. Karena setiap perspektif ulama atau orang pastilah berbeda-beda tidak selalu sama. Saya akan mengungkap Jamaah ini termasuk kelompok yang ke arah menyimpang atau kelompok yang tidak menyimpang.
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya hanyalah salah satu sekuen dari perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh kapitalisme dan modernisme.   
Jamaah Tabligh adalah merupakan potret  gerakan dakwah islam kekinian yang bersifat lintas negara. Islam yang terlihat pada wajah Jamaah Tabligh adalah santun, rendah hati, dan cenderung menghindar khilafiyah (perbedaan pendapat). Para aktivitas Jamaah Tabligh (karkun) secara rajin dan berkesinambungan berkhuruj (keluar) untuk menyampaikan dakwah Islam dengan cara yang menarik, agar Islam menjadi sistem hidup para pemeluknya di dalam kehidupan sehari-hari. Agar pemeluk agama Islam melaksanakan ajaran Islam secara kaffah, secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong, terutama mereka yang paling giat meramaikan shalat di masjid, perkembangan Jamaah Tabligh di Indonesia sering di anggap sesat dan menyalahi ajaran Islam.[1]
B.     SEJARAH BERDIRI SEKALIGUS PENDIRI JAMA’AH TABLIGH
Jamaah Tabligh ("Kelompok Penyampai") (bahasa Arab: التبليغ جماعة) adalah gerakan dakwah Islam dengan tujuan kembali ke ajaran Islam yang kaffah (sempurna). Aktivitas mereka tidak hanya terbatas pada golongan Islam saja. Tujuan utama gerakan ini adalah membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim. Jamaah Tabligh merupakan pergerakan non-politik terbesar di seluruh dunia.[2].
Berbicara sejarah sebuah gerakan Islam, pastinya lebih mengutamakan sejarah dari tokoh pendirinya itu, karena dari tokoh yang mendirikan suatu gerakan atau organisasi memegang peran penting, sejarah Jamaah Tabligh didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muahammad Ilyas bin Muhammad Ismail al-Kandahlawi al-Deoband al-Jisti [3] di Mewat, sebuah provinsi di India. Kandahlawi adalah nisbat kepada sebuah kampung yang  beranama Kandahla di Saharanpur India[4]. Dia lahir pada tahun pada tahun 1303 H. Deobandi adalah nisbat kepada Deoband, salah satu madrasah terbesar bagi pengikut mazhab Hanafi di India. Madrasah ini didirikan pada tahun 1283 H. Muhammad Ilyas menghabiskan masa kecilnya di Kandala, sebuah desa di kawasan Muzhaffar naghar di wilayah Uttarpradesh, India. Ayahnya bernama Muhammad Ismail, tinggal di Nizhamuddin, New Delhi, India yang kemudian menjadi markas besar Jamaah ini. Muhammad Ilyas meninggal pada tahun 1364 H.[5].
Muhammad Ilyas tumbuh berkembang di lingkungan keluarga sangat agamis dan dengan tradisi keilmuan yang sangat kental. Ayahnya, Muhammad Ismail adalah seorang penganut tasawuf yang sangat abid dan zahid. Dia telah mengabdikan hidupnya dalam ibadah dan tidak lagi terlalu disibukkan dengan urusan dunia. Hari-harinya disibukkan dengan Al-Quran.
Muhammad Ilyas telah hafal Al-Quran dalam usia yang sangat muda. Dia belajar kepada kakak kandungnya sendiri yang bernama Syaikh Muhammad Yahya. Selesai itu, dia belajar di madrasah Mahahirul Ulum, di kota Saharanpur. Dan pada tahun 1326 H, di berangkat ke Deoband. Sekolah ini terbesar untuk pengikut  Imam Hanafi di anak benua India yang didirikan pada tahun 1283 H/1867 M. Di sini dia belajar hadist Jami Shahih Turmudzi dan Shahih Bukhari dari seorang alim yang bernama Mahmud Hasan. Kemudian melanjutkan belajar Kutub al-Sittah pada kakaknya sendiri, Muhammad Yahya yang wafat pada tahun 1334 H.[6]
Setelah belajar di Deoband dia ditugaskan sebagai tenaga pengajar di madrasah Madhairul Ulum pada tahun 1328. Setelah itu dia kembali ke tempat kelahirannya pergi ke hijaz, Saudi Arabia, untuk menunaikan haji. Sebagai seorang yang memliki kepedulian yang sangat tinggi pada kelangsungan ajaran Islam, kesempatan menuaikan ibadah haji ini dia gunakan untuk
bertemu dengan berbagai kalangan ulama untuk memperbicangkan cara pengembangan terbaik dakwah Islam di India khusunya[7].
Dia pergi ke Madinah dan tidur di masjid Nabawi selama tiga malam. Di saat itu dia puasa, shalat dan berdoa meminta petunjuk pada Allah jalan terbaik untuk kelanjutan dakwah Islam. Kemudian kembali ke India dan memikirkan apa sebenarnya yang telah membuat umat Islam kehilangan roh Islamnya yang hakiki. Pada saat itu umat Islam India sedang mengalami kerusakan akidah dan degredasi moral yang sangat dahsyat. Umat Islam sudah tidak akrab lahi dengan syiar-syiar Islam.
Di samping itu, terjadi percampuran antara yang hak dan yang batil, antara iman dan syirik, antara sunah dan bid’ah. Lebih dari itu, juga telah terjadi gelombang permusryikan dan permutadan didalangi oleh para misionaris Kristen di mana Inggris saat itu sedang bercokol menjajah India. Gerakan misionaris yang didukung Inggris dengan dana yang sangat besar itu telah berusaha membolak-balikkan kebenaran Islam, dengan menghujat ajaran-ajarannya dan mendeskriditkan Rasulullah Saw. Bagaimana membendung kristenisasi dan mengembalikan kaum Muslimin yang “lepas” ke dalam pangkuan Islam? Itulah yang menjadi kegelisahan Muhammad Ilyas.
Akhirnya Syaikh Ilyas melihat, kelangsungan sebuah dakwah dan penyebarannya tidak akan terwujud kecuali dakwah itu berada di tangan-tangan orang yang benar-benar rela dan ikhlas berkorban demi kepentingan dakwah hanya mengaharapkan sepenuhnya ridha Allah tanpa menggantungkan diri bantuan dari manapun. Gerakan ini lebih menekankan meminta pengorbanan waktu kaum Muslimin dengan melakukan Khuruj (keluar) di jalan Allah untuk berdakwah daripada memnita pada mereka bantuan uang dan materi.
Di sinilah bagian yang menarik jamaah ini, dari mana pengorbanan menjadi salah satu tiang utama dalam berdakwah. Bahkan dalam setiap perjalanan dakwah itu, semua keperluan ditanggung oleh masing-masing da’i yang bersangkutan.
Sepeninggal Syaikh Muhammad Ilyas Kandahlawi, kepemimpinan jamaah tabligh diteruskan oleh puteranya, Syaikh Muhammad Yusuf Kandahlawi (1917-1965), ia dilahirkan di Delhi, dalam mencari ilmu ia sering berpindah-pindah tempat dan guru sekaligus menyebarkan dakwah. Ia wafat di Lahore dan jenazahnya dimakamkan di samping orang tuanya di Nizham al-Din, Delhi. Kitabnya yang terkenal adalah Amani Akhbar, berupa komentar kitab Ma’ani al-Atsar, karya Syaikh Thahawi dan Hayat al-Shahabah. Kemudian penyebaran Jamaah Tabligh dilanjutkan oleh Amir yang ketiga yaitu In’am Hasan.
Nama Jamaah Tabligh hanyalah merupakan sebutan bagi mereka yang sering meyampaiakan, sebenarnya usaha ini tidak mempunyai nama tetapi cukup islam saja tidak ada yang lain. Bahkan Muhammad Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama “gerakan iman”. Ilham untuk mengabdikan hidupnyatotal hanya untuk islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan ibadah haji keduanya di Hijaz pada tahun 1926. Maulana Ilyas menyerukan slogannya, “Aye Musalmano!” Musalman bano” (dalam bahasa urdu), yang artinya “Wahai Umat muslim! Jadilah yang kaffah (menunaikan semua rukun dan syariah seperti yang dicontohkan Rasulullah).[8]Tabligh resminya bukan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim yang menjalankan agamanya dan hanya satu-satunya gerakan islam yang tidak memandang asal-usul mazhab atau aliran pengikutnya.
Jamaah ini muncul di India, kemudian tersebar ke Pakistan dan Bangladesh, negara-negara Arab dan keseluruh dunia. Di antara negara-negara yang banyak pengikutnya yaitu Mesir, Sudan, Irak, Bangladesh, Pakistan, Suriah, Yordania, Palestina, Libanon. Pimpinan pusatnya berkantor di Nizhamuddin, Delhi.
Dalam waktu kurang dari dua dekade, Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia Selatan. Dengan dipimpin Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara.

C.    PERKEMBANGAN GERAKAN JAMAAH TABLIGH
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya hanyalah salah satu gerakan dari perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggakan oleh kapitalisme dan modernisme.  
Meskipun demikian, Jamaah Tabligh tetap menimbulkan kontroversi. Sebagian kalangan menuduh kelompok ini  adalah bagian dari jaringan Islam garis keras. Namun, sebagian lainnya, justru berpendapat berbeda. Jamaah Tabligh  dianggap semata-mata komunitas dakwah yang bersifat apolitis. Adanya perbedaaan pandangan yang sangat tersebut menunjukkan komunitasnya ini. sesungguhnya belum banyak dieksplorasi sehingga tidak mudah dipahami. Hal ini sebenarnya wajar, mengingat komunitas ini relatif kurang terbuka kepada public.[9]
Jamaah Tabligh di Indonesia meski tak sepopuler organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah atau NU, namun Jamaah Tabligh terbilang mempunyai anggota yang cukup banyak. Anggota Jamaah Tabligh di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari artis sampai dengan tentara, kalangan profesional dan lain-lain. Pusat markas Jamaah Tabligh di Indonesia berada di Jakarta, khususnya di masjid Masjid Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota.
Di masjid yang sudah berusia lebih dua abad ini, kita akan menjumpai ratusan jamaah yang hampir seluruhnya berjenggot. Jamaah Tabligh ini berkumpul rutin setiap malam jum’at, hanya pada malam itu mereka berkumpul di masjid tua di Kebon Jeruk. Mereka juga menggunakan surban, pakaian takwa dan peci putih, yang biasa dipakai umat Islam di Indonesia. Tapi kita juga akan mendapati jamaah yang memakai surban dengan baju panjang sampai lutut, untaian tasbih atau tongkat di tangan, janggut berjenggot, dahi hitam, dan aroma minyak cendana, khas jamaah dari Asia Timur.
Di Indonesia, Tabligh juga telah menyentuh hati Sakti, personel band Sheila on 7. Pada tahun 2006, dia telah keluar selama empat bulan ke Markas International Tabligh di Nizzamudin, New Delhi, India. Dia telah berhenti bermusik, dan memilih menjalankan amalan amalan maqami dan amalan intiqali dengan sangat intensif. [10]
Dan setelah itu ada juga Vokalis dari Nineball band,Ray.selain itu pula ada Lukman hakim-gitaris Peterpan. Dan banyak lagi yang bisa jadi panutan.termasuknya pedangdut Saiful Jamil.[11]

D.    AJARAN-AJARAN ATAU PEMIKIRAN JAMAAH TABLIGH
Oleh pendiri Jama’ah telah ditetapkan 6 prinsip yang menjadi asas da’wahnya yaitu:
1. Kalimah agung (merealisasikan syahadat).
2. Menegakkan shalat dengan khusyuk.
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan setiap Muslim.
5. Ikhlas.
6. Berjuang fi sabilillah.
a.       Merealisasikan syahadat La ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah.
Menurut Jamaah Tabligh, iman berarti membenarkan perkataan seseorang dengan pasti karena percaya kepadanya. Secara istilah iman adalah membenarkan semua yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw, dengan begitu saja tanpa, melihat secara langsung karena percaya dan yakin terhadapnya. Sebagai mana yang diterangkan dalam Q.S.Al-Anbiya (21):25.

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku".
Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan memasukan keyakinan yang benar terhadap Dzat yang Mencipta, Pemberi rezeki, Pemberi manfaat, Pemberi bahya, Memuliakan, Menghinakan, Menghidupkan, Mematikan, Penahan. Mereka memahami kalimat tauhid semakna dengan tauhid Rububiyyah[12].
Adapun tentang pemaknaan La ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah dengan pernyataan bahwa hal itu untuk mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda yang mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan memasukkan yang benar terhadap Dzat Allah, maksudnya manusia yang menyakini Allah dan mengeluarkan keyakinan dari selain-Nya sebagaimana ayat :
“Niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka jahanam, dan sesunguhnya benar-benar akan melihatnya dengan pendangan yang menimbulkan keyakinan”[13]
b.      Shalat dengan Khusyu’.
Dapat mengambil manfaat dari qudratullah (kuasa Allah) secara langsung, maka wajib melaksanakan perintah Allah berdasarkan pentunjuk Rasulullah. Perintah yang paling penting dan sebagai asas adalah menegakkan shalat dengan khusyu. Khusyu adalah takut di dalam hati dan ketenangan pada anggota tubuh.[14]Jamaah Tabligh sangat memperhatikan menunaikan shalat bagaimanapun kondisi sibuknya. Perkara ini dituntut kepada stiap muslim dan pelakunya akan diberi pahala oleh Allah dengan cara mempelajari dan mengamalkan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya dan hukum-hukumnya.
c.       Ilmu. Dan zikir
Untuk dapat mengambil manfaat dari Allah secara langsung perlu mematuhi semua perintah-Nya menurut cara Nabi Muhammad SAW, hal ini dapat terwujud dengan berusaha mendapatkan ilmu Ilahi. Ilmu merupakan harta yang kekal bagi manusia. Bagi Jamaah Tabligh ilmu tentang hukum-hukum dan masalah-masalah fiqih serta ilmu tauhid, maka mereka perhatikan dan menghargai[15].
Dalam menjelaskan tentang ilmu, Jamaah Tabligh mentamsilkannya dengan tingkat kualitas tanah. Tanah ada tiga macam kualitas begitu juga manusia. Jenis tanah yang pertama adlah yang bisa mengambil manfaat dari air, sehingga bisa hidup kembali setelah tadinya mati. Ia pun bisa menumbuhkan tanaman, sehingga manusia an hewan dapat memanfaatkannya. Jenis manusia pertama adalah manusia yang memperoleh petunjuk dari ilmu. Jenis tanah yang kedua adalah yang tidak dapat memperoleh manfaat ntuk dirinya, akan masih berfaedah, yaitu menampung air untuk  makhluk-makhluk lain. Sehingga manusia dan hewan hanya dapat memperoleh manfaat.
Demikian juga jenis manusia yang kedua yaitu mereka yang memiliki hati yang bagus hafalannya, namun tidak memiliki pikiran yang cerdas, mereka juga tidak mempunyai kesungguhan dalam mengamalkannya. Jenis manusia ini memberikan manfaat kepada orang lain dengan ilmu yang mereka peroleh. Jenis manusia yang ketiga adalah mrerka yang tidak memiliki hati yang bagus. Ketika mereka mendengar suatu ilmu mereka tiak dapat memperoleh manfaat darinya hingga tidak dapat memberi manfaat pada yang lain, hal itu layaknya tanah yang gersang.[16]
e.       memuliakan setiap muslim
Ikramul Muslimin (lemah lembut terhadap kaum muslim) adalah melaksanakan perintah Allah yang berhubungan dengan hamba-hambanya dengan berpedoman pada petunjuk Nabi Muhammad Saw., dan menjaga kehormatan umat islam. Orang islam adalah orang-orang yang tunduk dam lembut perangainya dan mereka sangat patuh terhadap perintah dan larangan Allah.[17][17]
    f. Memperbaiki Niat.
Niat adalah melaksanakan segala perintah Allah untuk mencari keridhaan allah semata dan agar amal bersih dari riya dan ingin dikenal orang. Setiap orngan islam diwajibkan beramal dengan yakin terhadap apa yang telah dijanjikan Allah disertai rasa rindu penuh harap akan pahala dan balasan dari sisi Allah. Mencari keridhaan Allah (ihtisab) dalam mengerjakan amal-amal shalih dan mengahadapi kesusahan merupakan sikap bersegera mencari pahala. Cara mendapatkannya adalah dengan tunduk berserah diri kepada Allah[18][18].

g.     Khuruj di jalan Allah
Untuk memperbaiki keyakinan dan amal pada diri seseorang dan seluruh umat manusia perlu adanya usaha menghidupkan kerja Nabi Muhammad Saw., ke seluruh alam sesuai dengan cara beliau, yakni melalui metode keluar untuk berdakwah dan tabligh[19][19]
Metode da’wah mereka menempuh jalan berikut :
1.      Sebuah kelompok dari kalangan Jama’ah, dengan kesadaran sendiri, bertugas melakukan da’wah kepada penduduk setempat yang dijadikan obyek da’wah. Masing-masing anggota kelompok tersebut membawa peralatan hidup sederhana dan bekal serta uang secukupnya. Hidup sederhana merupakan ciri khasnya.
2.       Begitu mereka sampai ke sebuah negeri atau kampung yang hendak dida’wahi, mereka mengatur dirinya sendiri. Sebagian ada yang membersihkan tempat yang akan ditinggalinya dan sebagian lagi keluar mengungjungi kota, kampung, pasar dan warung-warung, sambil berdzikir kepada Allah. Mereka mengajak orang-orang mendengarkan ceramah atau bayan (menurut istilali Jama’ah)
3.       Jika saat bayan tiba, mereka semua berkumpul untuk mendengarkannya. Setelah bayan selesai, para hadirin dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang da’i dari Jama’ah. Kemudian para da’i tersebut mulai mengajari cara berwudhu’, membaca fatihah, shalat atau membaca al-Qur’an. Mereka membuat halaqat-halaqat seperti itu dan diulanginya berkali-kali dalam beberapa hari.
4.      Sebelum mereka meninggalkan tempat da’wah, masyarakat setempat diajak keluar bersama untuk menyampaikan da’wah ke tempat lain. Beberapa orang secara sukarela menemani mereka selama satu sampai 3 hari atau sepekan, bahkan ada yang sampai satu bulan. Semua itu dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing sebagai realisasi firman Allah:
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan ke tengah-tengah manusia.” (Q.S, Ali ‘Imran : 110)
5.      Mereka menolak undangan walimah (kenduri) yang diselenggarakan penduduk setempat. Tujuannya agar tidak terganggu oleh masalah-masalah di luar da’wah dan dzikir serta amal perbuatan mereka tulus karena Allah semata.
6.      Dalam materi da’wah, mereka tidak memasukkan ide penghapusan kemungkaran. Sebab, mereka meyakini bahwa sekarang ini masih berada dalam tahap pembentukan kondisi kehidupan yang Islami. Perbuatan mendobrak kemungkaran, selain sering menimbulkan kendala dalam perjalanan da’wah mereka, juga membuat orang lari.
7.       Mereka berkeyakinan, jika pribadi-pribadi telah diperbaiki satu persatu, maka secara otomatis kemungkaran akan hilang.
8.      Keluar, tabligh dan da’wah merupakan pendidikan praktis untuk menempa seorang da’i. Sebab seorang da’i harus dapat menjadi qudwah dan harus konsisten dengan da’wahnya.
Mereka memandang taqlid kepada madzhab tertentu adalah wajib.Konsekwensinya mereka melarang ijtihad dengan alasan sekarang ini tidak ada ulama yang memenuhi syarat sebagai seorang Mujtahid. Demikian apa yang saya susun mudah – mudahan akan menjawab semua penasaran kita terhadap jamaah yang sangat mengejutkan kita di ini. Hendaknya kita perlu mnegambil manfaat dari setiap hal yang terjadi fenomena ini mudah – mudahan sanggup membangkitkan adrenalin kita khususnya para dai.


E.     KESIMPULAN
Jamaah Tabligh merupakan gerakan Islam yang telah mendunia. Sejak kemunculannya di India gerakan ini tetap berada pada perbaikan invidu sebagai fokus utama. Sarana yang digunakan oleh Jamaah Tabligh adalah para penggerak dakwahnya itu sendiri. Aktivitas dakwah dibawa secara langsung oleh anggotanya ke berbagai daerah di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, Jamaah Tabligh telah tersebar luas. Penyebaran misi ajarannya disampaikan langsung oleh anggotanya hingga ke pintu rumah objek dakwah mereka.Pada konsep pemikiran yang dibawa oleh Jamaah Tabligh, kehidupan adalah sebuah aktivitas peribadahan. Cara menjalani hidup terbaik adalah dengan terus meningkatkan nilai ibadah dalam kehidupan manusia. Selain terus memperbaiki akhlak dan ibadah, mengajak orang lain untuk ikut berdakwah di jalan Allah adalah salah satu nilai yang cukup penting. Konsep lainnya yang khas dari gerakan dakwah ini adalah pemunculan nilai spiritual dalam setiap aktivitasnya, ibadah yang utama adalah ibadah yang terdapat pada enam sifat sahabat yang menjadi ajaran pokok Jamaah Tabligh.
Metode dakwah yang dibawa oleh Jamaah Tabligh sangat fleksibel dan mudah diterima. Banyak tantangan terhadap pergerakan dakwah Jamaah Tabligh, hujatan yang sering berasal dari ulama salafi ternyata ajaran Jamaah Tabligh tidak menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw.









DAFTAR PUSTAKA

 Khalimi, ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung       Persada Press, 2010),
Sayid Thalibur Rahman, Jamaah Tabligh Fi Syibhil Qaraah Hindiyah,
www.hidayatullah.com          
 Majalah As-Sunnah , Edisi 01/Tahun VII/1432H/2003
 H As’ad Said Ali, Islamisme Jamaah Tabligh, lihat di www.nu.or.i
 Q.S. Al-Takatsur {102}:6-7
 Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat    Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
Waqafat ma’a Jama’at al-Tabligh, Nazar Al-Jarbu’.                                                      



[1]  Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 199.
[2] Ibid. , hlm. 199.
[3] Al-Jisti adalah nisbat kepada salah satu thariqat sufi bernama Jistiyyah. Silsilah thareqat tersebut dimulai dari India, dari seorang sufi bernama Khawaja Mu’inuddin Al-Jisti.
[4] Sayid Thalibur Rahman, Jamaah Tabligh Fi Syibhil Qaraah Hindiyah, hlm. 19.
[5]  www.hidayatullah.com
[6] Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 200.
[7] Majalah As-Sunnah , Edisi 01/Tahun VII/1432H/2003
[8] Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[9] H As’ad Said Ali, Islamisme Jamaah Tabligh, lihat di www.nu.or.id
[10]. Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[11] www.wikipedia.com
[12] Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 205.
[13] Q.S. Al-Takatsur {102}:6-7.
[14] Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006), hlm. 15.
[15] Waqafat ma’a Jama’at al-Tabligh, Nazar Al-Jarbu’. Hlm. 5-6.
[16] Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006), hlm. 131.

[17]Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006), hlm. 246.
[18] ibid, hlm. 243.
[19] ibid, hlm. 545. 
DISUSN OLEH :
KELOMPOK II
1.    KISWANI
2.    IDA FADILA
3.    NURHALIJA
4.    MAULIDYA

    DOSEN PENGAJAR
Drs.FAKHRI, S.Sos, M.A
                           JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
   FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
                                    TAHUN 2015/2016
GERAKAN JAMA’AH TABLIGH
OLEH
KELOMPOK II
A.    PENDAHULUAN
                                                                                                                 
Jamaah Tabligh merupakan pergerakan Islam yang mendunia, hal ini menjadi fenomena perjuangan Islam di jaman sekarang ini. Saya melihat fenomena pergerakan Jamaah Tabligh ini sangat cepat dan mudah diterima oleh pengikutnya. Jamaah Tabligh telah menjadi kelompok Islam tidak hanya di Indonesia di setiap Negara Jamaah ini ada.
Gerakan islam yang bernama Jamaah Tabligh ini menimbulkan dua perspektif di kalangan ulama, hal ini merupakan hal biasa. Karena setiap perspektif ulama atau orang pastilah berbeda-beda tidak selalu sama. Saya akan mengungkap Jamaah ini termasuk kelompok yang ke arah menyimpang atau kelompok yang tidak menyimpang.
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya hanyalah salah satu sekuen dari perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh kapitalisme dan modernisme.   
Jamaah Tabligh adalah merupakan potret  gerakan dakwah islam kekinian yang bersifat lintas negara. Islam yang terlihat pada wajah Jamaah Tabligh adalah santun, rendah hati, dan cenderung menghindar khilafiyah (perbedaan pendapat). Para aktivitas Jamaah Tabligh (karkun) secara rajin dan berkesinambungan berkhuruj (keluar) untuk menyampaikan dakwah Islam dengan cara yang menarik, agar Islam menjadi sistem hidup para pemeluknya di dalam kehidupan sehari-hari. Agar pemeluk agama Islam melaksanakan ajaran Islam secara kaffah, secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong, terutama mereka yang paling giat meramaikan shalat di masjid, perkembangan Jamaah Tabligh di Indonesia sering di anggap sesat dan menyalahi ajaran Islam.[1]
B.     SEJARAH BERDIRI SEKALIGUS PENDIRI JAMA’AH TABLIGH
Jamaah Tabligh ("Kelompok Penyampai") (bahasa Arab: التبليغ جماعة) adalah gerakan dakwah Islam dengan tujuan kembali ke ajaran Islam yang kaffah (sempurna). Aktivitas mereka tidak hanya terbatas pada golongan Islam saja. Tujuan utama gerakan ini adalah membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim. Jamaah Tabligh merupakan pergerakan non-politik terbesar di seluruh dunia.[2].
Berbicara sejarah sebuah gerakan Islam, pastinya lebih mengutamakan sejarah dari tokoh pendirinya itu, karena dari tokoh yang mendirikan suatu gerakan atau organisasi memegang peran penting, sejarah Jamaah Tabligh didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muahammad Ilyas bin Muhammad Ismail al-Kandahlawi al-Deoband al-Jisti [3] di Mewat, sebuah provinsi di India. Kandahlawi adalah nisbat kepada sebuah kampung yang  beranama Kandahla di Saharanpur India[4]. Dia lahir pada tahun pada tahun 1303 H. Deobandi adalah nisbat kepada Deoband, salah satu madrasah terbesar bagi pengikut mazhab Hanafi di India. Madrasah ini didirikan pada tahun 1283 H. Muhammad Ilyas menghabiskan masa kecilnya di Kandala, sebuah desa di kawasan Muzhaffar naghar di wilayah Uttarpradesh, India. Ayahnya bernama Muhammad Ismail, tinggal di Nizhamuddin, New Delhi, India yang kemudian menjadi markas besar Jamaah ini. Muhammad Ilyas meninggal pada tahun 1364 H.[5].
Muhammad Ilyas tumbuh berkembang di lingkungan keluarga sangat agamis dan dengan tradisi keilmuan yang sangat kental. Ayahnya, Muhammad Ismail adalah seorang penganut tasawuf yang sangat abid dan zahid. Dia telah mengabdikan hidupnya dalam ibadah dan tidak lagi terlalu disibukkan dengan urusan dunia. Hari-harinya disibukkan dengan Al-Quran.
Muhammad Ilyas telah hafal Al-Quran dalam usia yang sangat muda. Dia belajar kepada kakak kandungnya sendiri yang bernama Syaikh Muhammad Yahya. Selesai itu, dia belajar di madrasah Mahahirul Ulum, di kota Saharanpur. Dan pada tahun 1326 H, di berangkat ke Deoband. Sekolah ini terbesar untuk pengikut  Imam Hanafi di anak benua India yang didirikan pada tahun 1283 H/1867 M. Di sini dia belajar hadist Jami Shahih Turmudzi dan Shahih Bukhari dari seorang alim yang bernama Mahmud Hasan. Kemudian melanjutkan belajar Kutub al-Sittah pada kakaknya sendiri, Muhammad Yahya yang wafat pada tahun 1334 H.[6]
Setelah belajar di Deoband dia ditugaskan sebagai tenaga pengajar di madrasah Madhairul Ulum pada tahun 1328. Setelah itu dia kembali ke tempat kelahirannya pergi ke hijaz, Saudi Arabia, untuk menunaikan haji. Sebagai seorang yang memliki kepedulian yang sangat tinggi pada kelangsungan ajaran Islam, kesempatan menuaikan ibadah haji ini dia gunakan untuk
bertemu dengan berbagai kalangan ulama untuk memperbicangkan cara pengembangan terbaik dakwah Islam di India khusunya[7].
Dia pergi ke Madinah dan tidur di masjid Nabawi selama tiga malam. Di saat itu dia puasa, shalat dan berdoa meminta petunjuk pada Allah jalan terbaik untuk kelanjutan dakwah Islam. Kemudian kembali ke India dan memikirkan apa sebenarnya yang telah membuat umat Islam kehilangan roh Islamnya yang hakiki. Pada saat itu umat Islam India sedang mengalami kerusakan akidah dan degredasi moral yang sangat dahsyat. Umat Islam sudah tidak akrab lahi dengan syiar-syiar Islam.
Di samping itu, terjadi percampuran antara yang hak dan yang batil, antara iman dan syirik, antara sunah dan bid’ah. Lebih dari itu, juga telah terjadi gelombang permusryikan dan permutadan didalangi oleh para misionaris Kristen di mana Inggris saat itu sedang bercokol menjajah India. Gerakan misionaris yang didukung Inggris dengan dana yang sangat besar itu telah berusaha membolak-balikkan kebenaran Islam, dengan menghujat ajaran-ajarannya dan mendeskriditkan Rasulullah Saw. Bagaimana membendung kristenisasi dan mengembalikan kaum Muslimin yang “lepas” ke dalam pangkuan Islam? Itulah yang menjadi kegelisahan Muhammad Ilyas.
Akhirnya Syaikh Ilyas melihat, kelangsungan sebuah dakwah dan penyebarannya tidak akan terwujud kecuali dakwah itu berada di tangan-tangan orang yang benar-benar rela dan ikhlas berkorban demi kepentingan dakwah hanya mengaharapkan sepenuhnya ridha Allah tanpa menggantungkan diri bantuan dari manapun. Gerakan ini lebih menekankan meminta pengorbanan waktu kaum Muslimin dengan melakukan Khuruj (keluar) di jalan Allah untuk berdakwah daripada memnita pada mereka bantuan uang dan materi.
Di sinilah bagian yang menarik jamaah ini, dari mana pengorbanan menjadi salah satu tiang utama dalam berdakwah. Bahkan dalam setiap perjalanan dakwah itu, semua keperluan ditanggung oleh masing-masing da’i yang bersangkutan.
Sepeninggal Syaikh Muhammad Ilyas Kandahlawi, kepemimpinan jamaah tabligh diteruskan oleh puteranya, Syaikh Muhammad Yusuf Kandahlawi (1917-1965), ia dilahirkan di Delhi, dalam mencari ilmu ia sering berpindah-pindah tempat dan guru sekaligus menyebarkan dakwah. Ia wafat di Lahore dan jenazahnya dimakamkan di samping orang tuanya di Nizham al-Din, Delhi. Kitabnya yang terkenal adalah Amani Akhbar, berupa komentar kitab Ma’ani al-Atsar, karya Syaikh Thahawi dan Hayat al-Shahabah. Kemudian penyebaran Jamaah Tabligh dilanjutkan oleh Amir yang ketiga yaitu In’am Hasan.
Nama Jamaah Tabligh hanyalah merupakan sebutan bagi mereka yang sering meyampaiakan, sebenarnya usaha ini tidak mempunyai nama tetapi cukup islam saja tidak ada yang lain. Bahkan Muhammad Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama “gerakan iman”. Ilham untuk mengabdikan hidupnyatotal hanya untuk islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan ibadah haji keduanya di Hijaz pada tahun 1926. Maulana Ilyas menyerukan slogannya, “Aye Musalmano!” Musalman bano” (dalam bahasa urdu), yang artinya “Wahai Umat muslim! Jadilah yang kaffah (menunaikan semua rukun dan syariah seperti yang dicontohkan Rasulullah).[8]Tabligh resminya bukan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim yang menjalankan agamanya dan hanya satu-satunya gerakan islam yang tidak memandang asal-usul mazhab atau aliran pengikutnya.
Jamaah ini muncul di India, kemudian tersebar ke Pakistan dan Bangladesh, negara-negara Arab dan keseluruh dunia. Di antara negara-negara yang banyak pengikutnya yaitu Mesir, Sudan, Irak, Bangladesh, Pakistan, Suriah, Yordania, Palestina, Libanon. Pimpinan pusatnya berkantor di Nizhamuddin, Delhi.
Dalam waktu kurang dari dua dekade, Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia Selatan. Dengan dipimpin Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara.

C.    PERKEMBANGAN GERAKAN JAMAAH TABLIGH
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya hanyalah salah satu gerakan dari perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggakan oleh kapitalisme dan modernisme.  
Meskipun demikian, Jamaah Tabligh tetap menimbulkan kontroversi. Sebagian kalangan menuduh kelompok ini  adalah bagian dari jaringan Islam garis keras. Namun, sebagian lainnya, justru berpendapat berbeda. Jamaah Tabligh  dianggap semata-mata komunitas dakwah yang bersifat apolitis. Adanya perbedaaan pandangan yang sangat tersebut menunjukkan komunitasnya ini. sesungguhnya belum banyak dieksplorasi sehingga tidak mudah dipahami. Hal ini sebenarnya wajar, mengingat komunitas ini relatif kurang terbuka kepada public.[9]
Jamaah Tabligh di Indonesia meski tak sepopuler organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah atau NU, namun Jamaah Tabligh terbilang mempunyai anggota yang cukup banyak. Anggota Jamaah Tabligh di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari artis sampai dengan tentara, kalangan profesional dan lain-lain. Pusat markas Jamaah Tabligh di Indonesia berada di Jakarta, khususnya di masjid Masjid Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota.
Di masjid yang sudah berusia lebih dua abad ini, kita akan menjumpai ratusan jamaah yang hampir seluruhnya berjenggot. Jamaah Tabligh ini berkumpul rutin setiap malam jum’at, hanya pada malam itu mereka berkumpul di masjid tua di Kebon Jeruk. Mereka juga menggunakan surban, pakaian takwa dan peci putih, yang biasa dipakai umat Islam di Indonesia. Tapi kita juga akan mendapati jamaah yang memakai surban dengan baju panjang sampai lutut, untaian tasbih atau tongkat di tangan, janggut berjenggot, dahi hitam, dan aroma minyak cendana, khas jamaah dari Asia Timur.
Di Indonesia, Tabligh juga telah menyentuh hati Sakti, personel band Sheila on 7. Pada tahun 2006, dia telah keluar selama empat bulan ke Markas International Tabligh di Nizzamudin, New Delhi, India. Dia telah berhenti bermusik, dan memilih menjalankan amalan amalan maqami dan amalan intiqali dengan sangat intensif. [10]
Dan setelah itu ada juga Vokalis dari Nineball band,Ray.selain itu pula ada Lukman hakim-gitaris Peterpan. Dan banyak lagi yang bisa jadi panutan.termasuknya pedangdut Saiful Jamil.[11]

D.    AJARAN-AJARAN ATAU PEMIKIRAN JAMAAH TABLIGH
Oleh pendiri Jama’ah telah ditetapkan 6 prinsip yang menjadi asas da’wahnya yaitu:
1. Kalimah agung (merealisasikan syahadat).
2. Menegakkan shalat dengan khusyuk.
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan setiap Muslim.
5. Ikhlas.
6. Berjuang fi sabilillah.
a.       Merealisasikan syahadat La ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah.
Menurut Jamaah Tabligh, iman berarti membenarkan perkataan seseorang dengan pasti karena percaya kepadanya. Secara istilah iman adalah membenarkan semua yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw, dengan begitu saja tanpa, melihat secara langsung karena percaya dan yakin terhadapnya. Sebagai mana yang diterangkan dalam Q.S.Al-Anbiya (21):25.

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku".
Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan memasukan keyakinan yang benar terhadap Dzat yang Mencipta, Pemberi rezeki, Pemberi manfaat, Pemberi bahya, Memuliakan, Menghinakan, Menghidupkan, Mematikan, Penahan. Mereka memahami kalimat tauhid semakna dengan tauhid Rububiyyah[12].
Adapun tentang pemaknaan La ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah dengan pernyataan bahwa hal itu untuk mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda yang mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan memasukkan yang benar terhadap Dzat Allah, maksudnya manusia yang menyakini Allah dan mengeluarkan keyakinan dari selain-Nya sebagaimana ayat :
“Niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka jahanam, dan sesunguhnya benar-benar akan melihatnya dengan pendangan yang menimbulkan keyakinan”[13]
b.      Shalat dengan Khusyu’.
Dapat mengambil manfaat dari qudratullah (kuasa Allah) secara langsung, maka wajib melaksanakan perintah Allah berdasarkan pentunjuk Rasulullah. Perintah yang paling penting dan sebagai asas adalah menegakkan shalat dengan khusyu. Khusyu adalah takut di dalam hati dan ketenangan pada anggota tubuh.[14]Jamaah Tabligh sangat memperhatikan menunaikan shalat bagaimanapun kondisi sibuknya. Perkara ini dituntut kepada stiap muslim dan pelakunya akan diberi pahala oleh Allah dengan cara mempelajari dan mengamalkan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya dan hukum-hukumnya.
c.       Ilmu. Dan zikir
Untuk dapat mengambil manfaat dari Allah secara langsung perlu mematuhi semua perintah-Nya menurut cara Nabi Muhammad SAW, hal ini dapat terwujud dengan berusaha mendapatkan ilmu Ilahi. Ilmu merupakan harta yang kekal bagi manusia. Bagi Jamaah Tabligh ilmu tentang hukum-hukum dan masalah-masalah fiqih serta ilmu tauhid, maka mereka perhatikan dan menghargai[15].
Dalam menjelaskan tentang ilmu, Jamaah Tabligh mentamsilkannya dengan tingkat kualitas tanah. Tanah ada tiga macam kualitas begitu juga manusia. Jenis tanah yang pertama adlah yang bisa mengambil manfaat dari air, sehingga bisa hidup kembali setelah tadinya mati. Ia pun bisa menumbuhkan tanaman, sehingga manusia an hewan dapat memanfaatkannya. Jenis manusia pertama adalah manusia yang memperoleh petunjuk dari ilmu. Jenis tanah yang kedua adalah yang tidak dapat memperoleh manfaat ntuk dirinya, akan masih berfaedah, yaitu menampung air untuk  makhluk-makhluk lain. Sehingga manusia dan hewan hanya dapat memperoleh manfaat.
Demikian juga jenis manusia yang kedua yaitu mereka yang memiliki hati yang bagus hafalannya, namun tidak memiliki pikiran yang cerdas, mereka juga tidak mempunyai kesungguhan dalam mengamalkannya. Jenis manusia ini memberikan manfaat kepada orang lain dengan ilmu yang mereka peroleh. Jenis manusia yang ketiga adalah mrerka yang tidak memiliki hati yang bagus. Ketika mereka mendengar suatu ilmu mereka tiak dapat memperoleh manfaat darinya hingga tidak dapat memberi manfaat pada yang lain, hal itu layaknya tanah yang gersang.[16]
e.       memuliakan setiap muslim
Ikramul Muslimin (lemah lembut terhadap kaum muslim) adalah melaksanakan perintah Allah yang berhubungan dengan hamba-hambanya dengan berpedoman pada petunjuk Nabi Muhammad Saw., dan menjaga kehormatan umat islam. Orang islam adalah orang-orang yang tunduk dam lembut perangainya dan mereka sangat patuh terhadap perintah dan larangan Allah.[17][17]
    f. Memperbaiki Niat.
Niat adalah melaksanakan segala perintah Allah untuk mencari keridhaan allah semata dan agar amal bersih dari riya dan ingin dikenal orang. Setiap orngan islam diwajibkan beramal dengan yakin terhadap apa yang telah dijanjikan Allah disertai rasa rindu penuh harap akan pahala dan balasan dari sisi Allah. Mencari keridhaan Allah (ihtisab) dalam mengerjakan amal-amal shalih dan mengahadapi kesusahan merupakan sikap bersegera mencari pahala. Cara mendapatkannya adalah dengan tunduk berserah diri kepada Allah[18][18].

g.     Khuruj di jalan Allah
Untuk memperbaiki keyakinan dan amal pada diri seseorang dan seluruh umat manusia perlu adanya usaha menghidupkan kerja Nabi Muhammad Saw., ke seluruh alam sesuai dengan cara beliau, yakni melalui metode keluar untuk berdakwah dan tabligh[19][19]
Metode da’wah mereka menempuh jalan berikut :
1.      Sebuah kelompok dari kalangan Jama’ah, dengan kesadaran sendiri, bertugas melakukan da’wah kepada penduduk setempat yang dijadikan obyek da’wah. Masing-masing anggota kelompok tersebut membawa peralatan hidup sederhana dan bekal serta uang secukupnya. Hidup sederhana merupakan ciri khasnya.
2.       Begitu mereka sampai ke sebuah negeri atau kampung yang hendak dida’wahi, mereka mengatur dirinya sendiri. Sebagian ada yang membersihkan tempat yang akan ditinggalinya dan sebagian lagi keluar mengungjungi kota, kampung, pasar dan warung-warung, sambil berdzikir kepada Allah. Mereka mengajak orang-orang mendengarkan ceramah atau bayan (menurut istilali Jama’ah)
3.       Jika saat bayan tiba, mereka semua berkumpul untuk mendengarkannya. Setelah bayan selesai, para hadirin dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang da’i dari Jama’ah. Kemudian para da’i tersebut mulai mengajari cara berwudhu’, membaca fatihah, shalat atau membaca al-Qur’an. Mereka membuat halaqat-halaqat seperti itu dan diulanginya berkali-kali dalam beberapa hari.
4.      Sebelum mereka meninggalkan tempat da’wah, masyarakat setempat diajak keluar bersama untuk menyampaikan da’wah ke tempat lain. Beberapa orang secara sukarela menemani mereka selama satu sampai 3 hari atau sepekan, bahkan ada yang sampai satu bulan. Semua itu dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing sebagai realisasi firman Allah:
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan ke tengah-tengah manusia.” (Q.S, Ali ‘Imran : 110)
5.      Mereka menolak undangan walimah (kenduri) yang diselenggarakan penduduk setempat. Tujuannya agar tidak terganggu oleh masalah-masalah di luar da’wah dan dzikir serta amal perbuatan mereka tulus karena Allah semata.
6.      Dalam materi da’wah, mereka tidak memasukkan ide penghapusan kemungkaran. Sebab, mereka meyakini bahwa sekarang ini masih berada dalam tahap pembentukan kondisi kehidupan yang Islami. Perbuatan mendobrak kemungkaran, selain sering menimbulkan kendala dalam perjalanan da’wah mereka, juga membuat orang lari.
7.       Mereka berkeyakinan, jika pribadi-pribadi telah diperbaiki satu persatu, maka secara otomatis kemungkaran akan hilang.
8.      Keluar, tabligh dan da’wah merupakan pendidikan praktis untuk menempa seorang da’i. Sebab seorang da’i harus dapat menjadi qudwah dan harus konsisten dengan da’wahnya.
Mereka memandang taqlid kepada madzhab tertentu adalah wajib.Konsekwensinya mereka melarang ijtihad dengan alasan sekarang ini tidak ada ulama yang memenuhi syarat sebagai seorang Mujtahid. Demikian apa yang saya susun mudah – mudahan akan menjawab semua penasaran kita terhadap jamaah yang sangat mengejutkan kita di ini. Hendaknya kita perlu mnegambil manfaat dari setiap hal yang terjadi fenomena ini mudah – mudahan sanggup membangkitkan adrenalin kita khususnya para dai.


E.     KESIMPULAN
Jamaah Tabligh merupakan gerakan Islam yang telah mendunia. Sejak kemunculannya di India gerakan ini tetap berada pada perbaikan invidu sebagai fokus utama. Sarana yang digunakan oleh Jamaah Tabligh adalah para penggerak dakwahnya itu sendiri. Aktivitas dakwah dibawa secara langsung oleh anggotanya ke berbagai daerah di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, Jamaah Tabligh telah tersebar luas. Penyebaran misi ajarannya disampaikan langsung oleh anggotanya hingga ke pintu rumah objek dakwah mereka.Pada konsep pemikiran yang dibawa oleh Jamaah Tabligh, kehidupan adalah sebuah aktivitas peribadahan. Cara menjalani hidup terbaik adalah dengan terus meningkatkan nilai ibadah dalam kehidupan manusia. Selain terus memperbaiki akhlak dan ibadah, mengajak orang lain untuk ikut berdakwah di jalan Allah adalah salah satu nilai yang cukup penting. Konsep lainnya yang khas dari gerakan dakwah ini adalah pemunculan nilai spiritual dalam setiap aktivitasnya, ibadah yang utama adalah ibadah yang terdapat pada enam sifat sahabat yang menjadi ajaran pokok Jamaah Tabligh.
Metode dakwah yang dibawa oleh Jamaah Tabligh sangat fleksibel dan mudah diterima. Banyak tantangan terhadap pergerakan dakwah Jamaah Tabligh, hujatan yang sering berasal dari ulama salafi ternyata ajaran Jamaah Tabligh tidak menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw.









DAFTAR PUSTAKA

 Khalimi, ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung       Persada Press, 2010),
Sayid Thalibur Rahman, Jamaah Tabligh Fi Syibhil Qaraah Hindiyah,
www.hidayatullah.com          
 Majalah As-Sunnah , Edisi 01/Tahun VII/1432H/2003
 H As’ad Said Ali, Islamisme Jamaah Tabligh, lihat di www.nu.or.i
 Q.S. Al-Takatsur {102}:6-7
 Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat    Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
Waqafat ma’a Jama’at al-Tabligh, Nazar Al-Jarbu’.                                                      



[1]  Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 199.
[2] Ibid. , hlm. 199.
[3] Al-Jisti adalah nisbat kepada salah satu thariqat sufi bernama Jistiyyah. Silsilah thareqat tersebut dimulai dari India, dari seorang sufi bernama Khawaja Mu’inuddin Al-Jisti.
[4] Sayid Thalibur Rahman, Jamaah Tabligh Fi Syibhil Qaraah Hindiyah, hlm. 19.
[5]  www.hidayatullah.com
[6] Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 200.
[7] Majalah As-Sunnah , Edisi 01/Tahun VII/1432H/2003
[8] Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[9] H As’ad Said Ali, Islamisme Jamaah Tabligh, lihat di www.nu.or.id
[10]. Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[11] www.wikipedia.com
[12] Khalimi,  ORMAS-ORMAS ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), hlm. 205.
[13] Q.S. Al-Takatsur {102}:6-7.
[14] Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006), hlm. 15.
[15] Waqafat ma’a Jama’at al-Tabligh, Nazar Al-Jarbu’. Hlm. 5-6.
[16] Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006), hlm. 131.

[17]Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006), hlm. 246.
[18] ibid, hlm. 243.
[19] ibid, hlm. 545.