DISUSN OLEH :
KELOMPOK II
1. KISWANI
2. IDA
FADILA
3. NURHALIJA
4. MAULIDYA
DOSEN
PENGAJAR
Drs.FAKHRI,
S.Sos, M.A
JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
TAHUN
2015/2016
GERAKAN
JAMA’AH TABLIGH
OLEH
KELOMPOK
II
A.
PENDAHULUAN
Jamaah Tabligh merupakan pergerakan Islam yang mendunia, hal ini menjadi
fenomena perjuangan Islam di jaman sekarang ini. Saya melihat fenomena pergerakan
Jamaah Tabligh ini sangat cepat dan mudah diterima oleh pengikutnya. Jamaah
Tabligh telah menjadi kelompok Islam tidak hanya di Indonesia di setiap Negara Jamaah ini
ada.
Gerakan islam yang bernama Jamaah Tabligh ini menimbulkan
dua perspektif di kalangan ulama, hal ini merupakan hal biasa. Karena setiap
perspektif ulama atau orang pastilah berbeda-beda tidak selalu sama. Saya akan
mengungkap Jamaah ini termasuk kelompok yang ke arah menyimpang atau kelompok
yang tidak menyimpang.
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya
hanyalah salah satu sekuen dari perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok
ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan
islamisasi di negara-negara atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena
menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta
tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun
mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh kapitalisme dan
modernisme.
Jamaah
Tabligh adalah merupakan
potret gerakan dakwah islam kekinian yang bersifat lintas negara. Islam yang terlihat pada
wajah Jamaah Tabligh adalah santun, rendah hati, dan cenderung menghindar
khilafiyah (perbedaan pendapat). Para aktivitas Jamaah Tabligh (karkun) secara
rajin dan berkesinambungan berkhuruj (keluar) untuk menyampaikan dakwah Islam
dengan cara yang menarik, agar Islam menjadi sistem hidup para pemeluknya di
dalam kehidupan sehari-hari. Agar pemeluk agama Islam melaksanakan ajaran Islam
secara kaffah, secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong, terutama mereka
yang paling giat meramaikan shalat di masjid, perkembangan Jamaah Tabligh di
Indonesia sering di anggap sesat dan menyalahi ajaran Islam.[1]
B.
SEJARAH
BERDIRI SEKALIGUS PENDIRI JAMA’AH TABLIGH
Jamaah Tabligh ("Kelompok
Penyampai") (bahasa Arab: التبليغ
جماعة) adalah gerakan dakwah Islam dengan tujuan
kembali ke ajaran Islam yang kaffah (sempurna). Aktivitas mereka tidak hanya
terbatas pada golongan Islam saja. Tujuan utama gerakan ini adalah
membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim. Jamaah
Tabligh merupakan pergerakan non-politik terbesar di seluruh dunia.[2].
Berbicara sejarah sebuah gerakan Islam,
pastinya lebih mengutamakan sejarah dari tokoh pendirinya itu, karena dari
tokoh yang mendirikan suatu gerakan atau organisasi memegang peran penting,
sejarah Jamaah Tabligh didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muahammad Ilyas bin Muhammad Ismail
al-Kandahlawi al-Deoband al-Jisti [3] di Mewat, sebuah provinsi di India.
Kandahlawi adalah nisbat kepada sebuah kampung yang beranama Kandahla di Saharanpur India[4]. Dia
lahir pada tahun pada tahun 1303 H. Deobandi adalah nisbat kepada Deoband,
salah satu madrasah terbesar bagi pengikut mazhab Hanafi di India. Madrasah ini
didirikan pada tahun 1283 H. Muhammad Ilyas menghabiskan masa kecilnya di
Kandala, sebuah desa di kawasan Muzhaffar naghar di wilayah Uttarpradesh,
India. Ayahnya bernama Muhammad Ismail, tinggal di Nizhamuddin, New Delhi,
India yang kemudian menjadi markas besar Jamaah ini. Muhammad Ilyas meninggal
pada tahun 1364 H.[5].
Muhammad Ilyas tumbuh berkembang di
lingkungan keluarga sangat agamis dan dengan tradisi keilmuan yang sangat
kental. Ayahnya, Muhammad Ismail adalah seorang penganut tasawuf yang sangat
abid dan zahid. Dia telah mengabdikan hidupnya dalam ibadah dan tidak lagi
terlalu disibukkan dengan urusan dunia. Hari-harinya disibukkan dengan
Al-Quran.
Muhammad Ilyas telah hafal Al-Quran
dalam usia yang sangat muda. Dia belajar kepada kakak kandungnya sendiri yang
bernama Syaikh Muhammad Yahya. Selesai itu, dia belajar di madrasah Mahahirul
Ulum, di kota Saharanpur. Dan pada tahun 1326 H, di berangkat ke Deoband.
Sekolah ini terbesar untuk pengikut Imam
Hanafi di anak benua India yang didirikan pada tahun 1283 H/1867 M. Di sini dia
belajar hadist Jami Shahih Turmudzi dan Shahih Bukhari dari seorang alim yang
bernama Mahmud Hasan. Kemudian melanjutkan belajar Kutub al-Sittah pada
kakaknya sendiri, Muhammad Yahya yang wafat pada tahun 1334 H.[6]
Setelah belajar
di Deoband dia ditugaskan sebagai tenaga pengajar di madrasah Madhairul Ulum
pada tahun 1328. Setelah itu dia kembali ke tempat kelahirannya pergi ke hijaz,
Saudi Arabia, untuk menunaikan haji. Sebagai seorang yang memliki kepedulian
yang sangat tinggi pada kelangsungan ajaran Islam, kesempatan menuaikan ibadah
haji ini dia gunakan untuk
bertemu dengan berbagai kalangan ulama
untuk memperbicangkan cara pengembangan terbaik dakwah Islam di India khusunya[7].
Dia pergi ke Madinah dan tidur di
masjid Nabawi selama tiga malam. Di saat itu dia puasa, shalat dan berdoa
meminta petunjuk pada Allah jalan terbaik untuk kelanjutan dakwah Islam.
Kemudian kembali ke India dan memikirkan apa sebenarnya yang telah membuat umat
Islam kehilangan roh Islamnya yang hakiki. Pada saat itu umat Islam India
sedang mengalami kerusakan akidah dan degredasi moral yang sangat dahsyat. Umat
Islam sudah tidak akrab lahi dengan syiar-syiar Islam.
Di samping itu, terjadi percampuran
antara yang hak dan yang batil, antara iman dan syirik, antara sunah dan
bid’ah. Lebih dari itu, juga telah terjadi gelombang permusryikan dan permutadan
didalangi oleh para misionaris Kristen di mana Inggris saat itu sedang bercokol
menjajah India. Gerakan misionaris yang didukung Inggris dengan dana yang
sangat besar itu telah berusaha membolak-balikkan kebenaran Islam, dengan
menghujat ajaran-ajarannya dan mendeskriditkan Rasulullah Saw. Bagaimana
membendung kristenisasi dan mengembalikan kaum Muslimin yang “lepas” ke dalam
pangkuan Islam? Itulah yang menjadi kegelisahan Muhammad Ilyas.
Akhirnya Syaikh Ilyas melihat,
kelangsungan sebuah dakwah dan penyebarannya tidak akan terwujud kecuali dakwah
itu berada di tangan-tangan orang yang benar-benar rela dan ikhlas berkorban
demi kepentingan dakwah hanya mengaharapkan sepenuhnya ridha Allah tanpa
menggantungkan diri bantuan dari manapun. Gerakan ini lebih menekankan meminta
pengorbanan waktu kaum Muslimin dengan melakukan Khuruj (keluar) di jalan Allah
untuk berdakwah daripada memnita pada mereka bantuan uang dan materi.
Di sinilah bagian yang menarik jamaah
ini, dari mana pengorbanan menjadi salah satu tiang utama dalam berdakwah.
Bahkan dalam setiap perjalanan dakwah itu, semua keperluan ditanggung oleh
masing-masing da’i yang bersangkutan.
Sepeninggal Syaikh Muhammad Ilyas
Kandahlawi, kepemimpinan jamaah tabligh diteruskan oleh puteranya, Syaikh
Muhammad Yusuf Kandahlawi (1917-1965), ia dilahirkan di Delhi, dalam mencari
ilmu ia sering berpindah-pindah tempat dan guru sekaligus menyebarkan dakwah.
Ia wafat di Lahore dan jenazahnya dimakamkan di samping orang tuanya di Nizham
al-Din, Delhi. Kitabnya yang terkenal adalah Amani Akhbar, berupa komentar kitab Ma’ani
al-Atsar, karya Syaikh Thahawi dan Hayat al-Shahabah. Kemudian penyebaran
Jamaah Tabligh dilanjutkan oleh Amir yang ketiga yaitu In’am Hasan.
Nama Jamaah Tabligh hanyalah merupakan
sebutan bagi mereka yang sering meyampaiakan, sebenarnya usaha ini tidak
mempunyai nama tetapi cukup islam saja tidak ada yang lain. Bahkan Muhammad
Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan
aku beri nama “gerakan iman”. Ilham untuk mengabdikan hidupnyatotal hanya untuk
islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan ibadah haji keduanya di Hijaz
pada tahun 1926. Maulana Ilyas menyerukan slogannya, “Aye Musalmano!” Musalman
bano” (dalam bahasa urdu), yang artinya “Wahai Umat muslim! Jadilah yang kaffah
(menunaikan semua rukun dan syariah seperti yang dicontohkan Rasulullah).[8]Tabligh
resminya bukan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim
yang menjalankan agamanya dan hanya satu-satunya gerakan islam yang tidak memandang
asal-usul mazhab atau aliran pengikutnya.
Jamaah ini muncul di India, kemudian
tersebar ke Pakistan dan Bangladesh, negara-negara Arab dan keseluruh dunia. Di
antara negara-negara yang banyak pengikutnya yaitu Mesir, Sudan, Irak,
Bangladesh, Pakistan, Suriah, Yordania, Palestina, Libanon. Pimpinan pusatnya
berkantor di Nizhamuddin, Delhi.
Dalam waktu kurang dari dua dekade,
Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia Selatan. Dengan dipimpin Maulana
Yusuf, putra Maulana Ilyas, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada
tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat
Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara.
C.
PERKEMBANGAN GERAKAN JAMAAH TABLIGH
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya
hanyalah salah satu gerakan dari
perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok ini sekarang sedang mewabah di
seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara
atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena menawarkan format Islam yang
lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas
personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggakan
oleh kapitalisme dan modernisme.
Meskipun demikian, Jamaah Tabligh tetap
menimbulkan kontroversi. Sebagian kalangan menuduh kelompok ini adalah
bagian dari jaringan Islam garis keras. Namun, sebagian lainnya, justru
berpendapat berbeda. Jamaah Tabligh dianggap semata-mata komunitas dakwah yang
bersifat apolitis. Adanya perbedaaan pandangan yang sangat tersebut menunjukkan
komunitasnya ini. sesungguhnya
belum banyak dieksplorasi sehingga tidak mudah dipahami. Hal ini sebenarnya
wajar, mengingat komunitas ini relatif kurang terbuka kepada public.[9]
Jamaah Tabligh di Indonesia meski
tak sepopuler organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah atau NU, namun Jamaah
Tabligh terbilang mempunyai anggota yang cukup banyak. Anggota Jamaah Tabligh
di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari artis sampai dengan tentara,
kalangan profesional dan lain-lain. Pusat
markas Jamaah Tabligh di
Indonesia berada di Jakarta, khususnya di masjid Masjid Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota.
Di masjid yang sudah berusia lebih
dua abad ini, kita akan menjumpai ratusan jamaah yang hampir seluruhnya
berjenggot. Jamaah Tabligh ini berkumpul rutin setiap malam
jum’at, hanya pada malam itu mereka berkumpul di masjid tua di Kebon Jeruk. Mereka juga
menggunakan surban, pakaian takwa dan peci putih, yang biasa dipakai umat Islam
di Indonesia. Tapi kita juga akan mendapati jamaah yang memakai surban dengan
baju panjang sampai lutut, untaian tasbih atau tongkat di tangan, janggut
berjenggot, dahi hitam, dan aroma minyak cendana, khas jamaah dari Asia Timur.
Di Indonesia, Tabligh juga telah menyentuh hati Sakti, personel band Sheila on 7. Pada tahun 2006, dia telah keluar
selama empat bulan ke Markas International Tabligh di Nizzamudin, New Delhi, India. Dia telah berhenti
bermusik, dan memilih menjalankan amalan amalan maqami dan amalan intiqali
dengan sangat intensif. [10]
Dan setelah itu ada juga Vokalis
dari Nineball band,Ray.selain itu pula ada Lukman hakim-gitaris Peterpan. Dan banyak lagi yang bisa jadi
panutan.termasuknya pedangdut Saiful Jamil.[11]
D.
AJARAN-AJARAN ATAU PEMIKIRAN JAMAAH
TABLIGH
Oleh pendiri
Jama’ah telah ditetapkan 6 prinsip yang menjadi asas da’wahnya yaitu:
1. Kalimah agung (merealisasikan syahadat).
2. Menegakkan shalat dengan khusyuk.
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan setiap Muslim.
5. Ikhlas.
6. Berjuang fi sabilillah.
1. Kalimah agung (merealisasikan syahadat).
2. Menegakkan shalat dengan khusyuk.
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan setiap Muslim.
5. Ikhlas.
6. Berjuang fi sabilillah.
a.
Merealisasikan syahadat La ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah.
Menurut Jamaah Tabligh, iman berarti
membenarkan perkataan seseorang dengan pasti karena percaya kepadanya. Secara
istilah iman adalah membenarkan semua yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw,
dengan begitu saja tanpa, melihat secara langsung karena percaya dan yakin
terhadapnya. Sebagai mana yang diterangkan dalam Q.S.Al-Anbiya (21):25.
“Dan kami tidak
mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya:
"Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah
olehmu sekalian akan aku".
Yang dimaksud dengan ayat tersebut
adalah mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan
memasukan keyakinan yang benar terhadap Dzat yang Mencipta, Pemberi rezeki,
Pemberi manfaat, Pemberi bahya, Memuliakan, Menghinakan, Menghidupkan,
Mematikan, Penahan. Mereka memahami kalimat tauhid semakna dengan tauhid
Rububiyyah[12].
Adapun tentang pemaknaan La ilaha illa
Allah dan Muhammad Rasulullah dengan pernyataan bahwa hal itu untuk
mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda yang
mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan memasukkan
yang benar terhadap Dzat Allah, maksudnya manusia yang menyakini Allah dan
mengeluarkan keyakinan dari selain-Nya sebagaimana ayat :
“Niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka jahanam,
dan sesunguhnya benar-benar akan melihatnya dengan pendangan yang menimbulkan
keyakinan”[13]
b. Shalat
dengan Khusyu’.
Dapat mengambil manfaat dari
qudratullah (kuasa Allah) secara langsung, maka wajib melaksanakan perintah
Allah berdasarkan pentunjuk Rasulullah. Perintah yang paling penting dan
sebagai asas adalah menegakkan shalat dengan khusyu. Khusyu adalah takut di
dalam hati dan ketenangan pada anggota tubuh.[14]Jamaah Tabligh sangat
memperhatikan menunaikan shalat bagaimanapun kondisi sibuknya. Perkara ini
dituntut kepada stiap muslim dan pelakunya akan diberi pahala oleh Allah dengan
cara mempelajari dan mengamalkan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya,
sunnah-sunnahnya dan hukum-hukumnya.
c.
Ilmu.
Dan zikir
Untuk dapat mengambil manfaat dari
Allah secara langsung perlu mematuhi semua perintah-Nya menurut cara Nabi
Muhammad SAW, hal ini dapat terwujud dengan berusaha mendapatkan ilmu Ilahi.
Ilmu merupakan harta yang kekal bagi manusia. Bagi Jamaah Tabligh ilmu tentang
hukum-hukum dan masalah-masalah fiqih serta ilmu tauhid, maka mereka perhatikan
dan menghargai[15].
Dalam menjelaskan tentang ilmu, Jamaah
Tabligh mentamsilkannya dengan tingkat kualitas tanah. Tanah ada tiga macam
kualitas begitu juga manusia. Jenis tanah yang pertama adlah yang bisa
mengambil manfaat dari air, sehingga bisa hidup kembali setelah tadinya mati.
Ia pun bisa menumbuhkan tanaman, sehingga manusia an hewan dapat
memanfaatkannya. Jenis manusia pertama adalah manusia yang memperoleh petunjuk
dari ilmu. Jenis tanah yang kedua adalah yang tidak dapat memperoleh manfaat
ntuk dirinya, akan masih berfaedah, yaitu menampung air untuk makhluk-makhluk lain. Sehingga manusia dan
hewan hanya dapat memperoleh manfaat.
Demikian juga jenis manusia yang kedua
yaitu mereka yang memiliki hati yang bagus hafalannya, namun tidak memiliki
pikiran yang cerdas, mereka juga tidak mempunyai kesungguhan dalam
mengamalkannya. Jenis manusia ini memberikan manfaat kepada orang lain dengan
ilmu yang mereka peroleh. Jenis manusia yang ketiga adalah mrerka yang tidak
memiliki hati yang bagus. Ketika mereka mendengar suatu ilmu mereka tiak dapat
memperoleh manfaat darinya hingga tidak dapat memberi manfaat pada yang lain,
hal itu layaknya tanah yang gersang.[16]
e. memuliakan setiap muslim
Ikramul Muslimin (lemah lembut terhadap
kaum muslim) adalah melaksanakan perintah Allah yang berhubungan dengan
hamba-hambanya dengan berpedoman pada petunjuk Nabi Muhammad Saw., dan menjaga
kehormatan umat islam. Orang islam adalah orang-orang yang tunduk dam lembut
perangainya dan mereka sangat patuh terhadap perintah dan larangan Allah.[17][17]
f. Memperbaiki Niat.
Niat adalah melaksanakan segala
perintah Allah untuk mencari keridhaan allah semata dan agar amal bersih dari
riya dan ingin dikenal orang. Setiap orngan islam diwajibkan beramal dengan
yakin terhadap apa yang telah dijanjikan Allah disertai rasa rindu penuh harap
akan pahala dan balasan dari sisi Allah. Mencari keridhaan Allah (ihtisab)
dalam mengerjakan amal-amal shalih dan mengahadapi kesusahan merupakan sikap
bersegera mencari pahala. Cara mendapatkannya adalah dengan tunduk berserah
diri kepada Allah[18][18].
g. Khuruj di
jalan Allah
Untuk memperbaiki keyakinan dan amal
pada diri seseorang dan seluruh umat manusia perlu adanya usaha menghidupkan
kerja Nabi Muhammad Saw., ke seluruh alam sesuai dengan cara beliau, yakni
melalui metode keluar untuk berdakwah dan tabligh[19][19]
Metode da’wah mereka menempuh
jalan berikut :
1.
Sebuah kelompok dari kalangan
Jama’ah, dengan kesadaran sendiri, bertugas melakukan da’wah kepada penduduk
setempat yang dijadikan obyek da’wah. Masing-masing anggota kelompok tersebut
membawa peralatan hidup sederhana dan bekal serta uang secukupnya. Hidup
sederhana merupakan ciri khasnya.
2.
Begitu mereka sampai ke sebuah negeri atau
kampung yang hendak dida’wahi, mereka mengatur dirinya sendiri. Sebagian ada
yang membersihkan tempat yang akan ditinggalinya dan sebagian lagi keluar
mengungjungi kota, kampung, pasar dan warung-warung, sambil berdzikir kepada
Allah. Mereka mengajak orang-orang mendengarkan ceramah atau bayan (menurut
istilali Jama’ah)
3.
Jika saat bayan tiba, mereka semua berkumpul
untuk mendengarkannya. Setelah bayan selesai, para hadirin dibagi menjadi
beberapa kelompok. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang da’i dari Jama’ah.
Kemudian para da’i tersebut mulai mengajari cara berwudhu’, membaca fatihah,
shalat atau membaca al-Qur’an. Mereka membuat halaqat-halaqat seperti itu dan
diulanginya berkali-kali dalam beberapa hari.
4.
Sebelum mereka meninggalkan
tempat da’wah, masyarakat setempat diajak keluar bersama untuk menyampaikan da’wah
ke tempat lain. Beberapa orang secara sukarela menemani mereka selama satu
sampai 3 hari atau sepekan, bahkan ada yang sampai satu bulan. Semua itu
dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing sebagai realisasi firman Allah:
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan ke tengah-tengah manusia.” (Q.S, Ali ‘Imran : 110)
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan ke tengah-tengah manusia.” (Q.S, Ali ‘Imran : 110)
5.
Mereka menolak undangan walimah
(kenduri) yang diselenggarakan penduduk setempat. Tujuannya agar tidak
terganggu oleh masalah-masalah di luar da’wah dan dzikir serta amal perbuatan
mereka tulus karena Allah semata.
6.
Dalam materi da’wah, mereka
tidak memasukkan ide penghapusan kemungkaran. Sebab, mereka meyakini bahwa
sekarang ini masih berada dalam tahap pembentukan kondisi kehidupan yang
Islami. Perbuatan mendobrak kemungkaran, selain sering menimbulkan kendala
dalam perjalanan da’wah mereka, juga membuat orang lari.
7.
Mereka berkeyakinan, jika pribadi-pribadi
telah diperbaiki satu persatu, maka secara otomatis kemungkaran akan hilang.
8.
Keluar, tabligh dan da’wah
merupakan pendidikan praktis untuk menempa seorang da’i. Sebab seorang da’i
harus dapat menjadi qudwah dan harus konsisten dengan da’wahnya.
Mereka memandang taqlid kepada madzhab tertentu adalah wajib.Konsekwensinya mereka melarang ijtihad dengan alasan sekarang ini tidak ada ulama yang memenuhi syarat sebagai seorang Mujtahid. Demikian apa yang saya susun mudah – mudahan akan menjawab semua penasaran kita terhadap jamaah yang sangat mengejutkan kita di ini. Hendaknya kita perlu mnegambil manfaat dari setiap hal yang terjadi fenomena ini mudah – mudahan sanggup membangkitkan adrenalin kita khususnya para dai.
Mereka memandang taqlid kepada madzhab tertentu adalah wajib.Konsekwensinya mereka melarang ijtihad dengan alasan sekarang ini tidak ada ulama yang memenuhi syarat sebagai seorang Mujtahid. Demikian apa yang saya susun mudah – mudahan akan menjawab semua penasaran kita terhadap jamaah yang sangat mengejutkan kita di ini. Hendaknya kita perlu mnegambil manfaat dari setiap hal yang terjadi fenomena ini mudah – mudahan sanggup membangkitkan adrenalin kita khususnya para dai.
E.
KESIMPULAN
Jamaah Tabligh merupakan
gerakan Islam yang telah mendunia. Sejak kemunculannya di India gerakan ini
tetap berada pada perbaikan invidu sebagai fokus utama. Sarana yang digunakan
oleh Jamaah Tabligh adalah para penggerak dakwahnya itu sendiri. Aktivitas
dakwah dibawa secara langsung oleh anggotanya ke berbagai daerah di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia,
Jamaah Tabligh telah tersebar luas. Penyebaran misi ajarannya disampaikan
langsung oleh anggotanya hingga ke pintu rumah objek dakwah mereka.Pada konsep
pemikiran yang dibawa oleh Jamaah Tabligh, kehidupan adalah sebuah aktivitas
peribadahan. Cara menjalani hidup terbaik adalah dengan terus meningkatkan nilai
ibadah dalam kehidupan manusia. Selain terus memperbaiki akhlak dan ibadah,
mengajak orang lain untuk ikut berdakwah di jalan Allah adalah salah satu nilai
yang cukup penting. Konsep lainnya yang khas dari gerakan dakwah ini adalah
pemunculan nilai spiritual dalam setiap aktivitasnya, ibadah yang utama adalah
ibadah yang terdapat pada enam sifat sahabat yang menjadi ajaran pokok Jamaah
Tabligh.
Metode dakwah
yang dibawa oleh Jamaah Tabligh sangat fleksibel dan mudah diterima. Banyak
tantangan terhadap pergerakan dakwah Jamaah Tabligh, hujatan yang sering
berasal dari ulama salafi ternyata ajaran Jamaah Tabligh tidak menyimpang dari
ajaran Rasulullah Saw.
DAFTAR PUSTAKA
Khalimi, ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010),
Sayid Thalibur Rahman, Jamaah Tabligh Fi Syibhil
Qaraah Hindiyah,
www.hidayatullah.com
Majalah As-Sunnah , Edisi 01/Tahun VII/1432H/2003
H As’ad Said Ali, Islamisme Jamaah Tabligh, lihat
di www.nu.or.i
Q.S. Al-Takatsur {102}:6-7
Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab
Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj)
Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
Waqafat
ma’a Jama’at al-Tabligh, Nazar
Al-Jarbu’.
[1] Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2010), hlm. 199.
[3] Al-Jisti
adalah nisbat kepada salah satu thariqat sufi bernama Jistiyyah. Silsilah
thareqat tersebut dimulai dari India, dari seorang sufi bernama Khawaja
Mu’inuddin Al-Jisti.
[6] Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 200.
[8] Khalimi, ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[10]. Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[12] Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 205.
[14] Muhammad
Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat
Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
hlm. 15.
[16] Muhammad
Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat
Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
hlm. 131.
[17]Muhammad
Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat
Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
hlm. 246.
DISUSN OLEH :
KELOMPOK II
1. KISWANI
2. IDA
FADILA
3. NURHALIJA
4. MAULIDYA
DOSEN
PENGAJAR
Drs.FAKHRI,
S.Sos, M.A
JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
TAHUN
2015/2016
GERAKAN
JAMA’AH TABLIGH
OLEH
KELOMPOK
II
A.
PENDAHULUAN
Jamaah Tabligh merupakan pergerakan Islam yang mendunia, hal ini menjadi
fenomena perjuangan Islam di jaman sekarang ini. Saya melihat fenomena pergerakan
Jamaah Tabligh ini sangat cepat dan mudah diterima oleh pengikutnya. Jamaah
Tabligh telah menjadi kelompok Islam tidak hanya di Indonesia di setiap Negara Jamaah ini
ada.
Gerakan islam yang bernama Jamaah Tabligh ini menimbulkan
dua perspektif di kalangan ulama, hal ini merupakan hal biasa. Karena setiap
perspektif ulama atau orang pastilah berbeda-beda tidak selalu sama. Saya akan
mengungkap Jamaah ini termasuk kelompok yang ke arah menyimpang atau kelompok
yang tidak menyimpang.
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya
hanyalah salah satu sekuen dari perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok
ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan
islamisasi di negara-negara atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena
menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta
tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun
mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh kapitalisme dan
modernisme.
Jamaah
Tabligh adalah merupakan
potret gerakan dakwah islam kekinian yang bersifat lintas negara. Islam yang terlihat pada
wajah Jamaah Tabligh adalah santun, rendah hati, dan cenderung menghindar
khilafiyah (perbedaan pendapat). Para aktivitas Jamaah Tabligh (karkun) secara
rajin dan berkesinambungan berkhuruj (keluar) untuk menyampaikan dakwah Islam
dengan cara yang menarik, agar Islam menjadi sistem hidup para pemeluknya di
dalam kehidupan sehari-hari. Agar pemeluk agama Islam melaksanakan ajaran Islam
secara kaffah, secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong, terutama mereka
yang paling giat meramaikan shalat di masjid, perkembangan Jamaah Tabligh di
Indonesia sering di anggap sesat dan menyalahi ajaran Islam.[1]
B.
SEJARAH
BERDIRI SEKALIGUS PENDIRI JAMA’AH TABLIGH
Jamaah Tabligh ("Kelompok
Penyampai") (bahasa Arab: التبليغ
جماعة) adalah gerakan dakwah Islam dengan tujuan
kembali ke ajaran Islam yang kaffah (sempurna). Aktivitas mereka tidak hanya
terbatas pada golongan Islam saja. Tujuan utama gerakan ini adalah
membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim. Jamaah
Tabligh merupakan pergerakan non-politik terbesar di seluruh dunia.[2].
Berbicara sejarah sebuah gerakan Islam,
pastinya lebih mengutamakan sejarah dari tokoh pendirinya itu, karena dari
tokoh yang mendirikan suatu gerakan atau organisasi memegang peran penting,
sejarah Jamaah Tabligh didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muahammad Ilyas bin Muhammad Ismail
al-Kandahlawi al-Deoband al-Jisti [3] di Mewat, sebuah provinsi di India.
Kandahlawi adalah nisbat kepada sebuah kampung yang beranama Kandahla di Saharanpur India[4]. Dia
lahir pada tahun pada tahun 1303 H. Deobandi adalah nisbat kepada Deoband,
salah satu madrasah terbesar bagi pengikut mazhab Hanafi di India. Madrasah ini
didirikan pada tahun 1283 H. Muhammad Ilyas menghabiskan masa kecilnya di
Kandala, sebuah desa di kawasan Muzhaffar naghar di wilayah Uttarpradesh,
India. Ayahnya bernama Muhammad Ismail, tinggal di Nizhamuddin, New Delhi,
India yang kemudian menjadi markas besar Jamaah ini. Muhammad Ilyas meninggal
pada tahun 1364 H.[5].
Muhammad Ilyas tumbuh berkembang di
lingkungan keluarga sangat agamis dan dengan tradisi keilmuan yang sangat
kental. Ayahnya, Muhammad Ismail adalah seorang penganut tasawuf yang sangat
abid dan zahid. Dia telah mengabdikan hidupnya dalam ibadah dan tidak lagi
terlalu disibukkan dengan urusan dunia. Hari-harinya disibukkan dengan
Al-Quran.
Muhammad Ilyas telah hafal Al-Quran
dalam usia yang sangat muda. Dia belajar kepada kakak kandungnya sendiri yang
bernama Syaikh Muhammad Yahya. Selesai itu, dia belajar di madrasah Mahahirul
Ulum, di kota Saharanpur. Dan pada tahun 1326 H, di berangkat ke Deoband.
Sekolah ini terbesar untuk pengikut Imam
Hanafi di anak benua India yang didirikan pada tahun 1283 H/1867 M. Di sini dia
belajar hadist Jami Shahih Turmudzi dan Shahih Bukhari dari seorang alim yang
bernama Mahmud Hasan. Kemudian melanjutkan belajar Kutub al-Sittah pada
kakaknya sendiri, Muhammad Yahya yang wafat pada tahun 1334 H.[6]
Setelah belajar
di Deoband dia ditugaskan sebagai tenaga pengajar di madrasah Madhairul Ulum
pada tahun 1328. Setelah itu dia kembali ke tempat kelahirannya pergi ke hijaz,
Saudi Arabia, untuk menunaikan haji. Sebagai seorang yang memliki kepedulian
yang sangat tinggi pada kelangsungan ajaran Islam, kesempatan menuaikan ibadah
haji ini dia gunakan untuk
bertemu dengan berbagai kalangan ulama
untuk memperbicangkan cara pengembangan terbaik dakwah Islam di India khusunya[7].
Dia pergi ke Madinah dan tidur di
masjid Nabawi selama tiga malam. Di saat itu dia puasa, shalat dan berdoa
meminta petunjuk pada Allah jalan terbaik untuk kelanjutan dakwah Islam.
Kemudian kembali ke India dan memikirkan apa sebenarnya yang telah membuat umat
Islam kehilangan roh Islamnya yang hakiki. Pada saat itu umat Islam India
sedang mengalami kerusakan akidah dan degredasi moral yang sangat dahsyat. Umat
Islam sudah tidak akrab lahi dengan syiar-syiar Islam.
Di samping itu, terjadi percampuran
antara yang hak dan yang batil, antara iman dan syirik, antara sunah dan
bid’ah. Lebih dari itu, juga telah terjadi gelombang permusryikan dan permutadan
didalangi oleh para misionaris Kristen di mana Inggris saat itu sedang bercokol
menjajah India. Gerakan misionaris yang didukung Inggris dengan dana yang
sangat besar itu telah berusaha membolak-balikkan kebenaran Islam, dengan
menghujat ajaran-ajarannya dan mendeskriditkan Rasulullah Saw. Bagaimana
membendung kristenisasi dan mengembalikan kaum Muslimin yang “lepas” ke dalam
pangkuan Islam? Itulah yang menjadi kegelisahan Muhammad Ilyas.
Akhirnya Syaikh Ilyas melihat,
kelangsungan sebuah dakwah dan penyebarannya tidak akan terwujud kecuali dakwah
itu berada di tangan-tangan orang yang benar-benar rela dan ikhlas berkorban
demi kepentingan dakwah hanya mengaharapkan sepenuhnya ridha Allah tanpa
menggantungkan diri bantuan dari manapun. Gerakan ini lebih menekankan meminta
pengorbanan waktu kaum Muslimin dengan melakukan Khuruj (keluar) di jalan Allah
untuk berdakwah daripada memnita pada mereka bantuan uang dan materi.
Di sinilah bagian yang menarik jamaah
ini, dari mana pengorbanan menjadi salah satu tiang utama dalam berdakwah.
Bahkan dalam setiap perjalanan dakwah itu, semua keperluan ditanggung oleh
masing-masing da’i yang bersangkutan.
Sepeninggal Syaikh Muhammad Ilyas
Kandahlawi, kepemimpinan jamaah tabligh diteruskan oleh puteranya, Syaikh
Muhammad Yusuf Kandahlawi (1917-1965), ia dilahirkan di Delhi, dalam mencari
ilmu ia sering berpindah-pindah tempat dan guru sekaligus menyebarkan dakwah.
Ia wafat di Lahore dan jenazahnya dimakamkan di samping orang tuanya di Nizham
al-Din, Delhi. Kitabnya yang terkenal adalah Amani Akhbar, berupa komentar kitab Ma’ani
al-Atsar, karya Syaikh Thahawi dan Hayat al-Shahabah. Kemudian penyebaran
Jamaah Tabligh dilanjutkan oleh Amir yang ketiga yaitu In’am Hasan.
Nama Jamaah Tabligh hanyalah merupakan
sebutan bagi mereka yang sering meyampaiakan, sebenarnya usaha ini tidak
mempunyai nama tetapi cukup islam saja tidak ada yang lain. Bahkan Muhammad
Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan
aku beri nama “gerakan iman”. Ilham untuk mengabdikan hidupnyatotal hanya untuk
islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan ibadah haji keduanya di Hijaz
pada tahun 1926. Maulana Ilyas menyerukan slogannya, “Aye Musalmano!” Musalman
bano” (dalam bahasa urdu), yang artinya “Wahai Umat muslim! Jadilah yang kaffah
(menunaikan semua rukun dan syariah seperti yang dicontohkan Rasulullah).[8]Tabligh
resminya bukan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim
yang menjalankan agamanya dan hanya satu-satunya gerakan islam yang tidak memandang
asal-usul mazhab atau aliran pengikutnya.
Jamaah ini muncul di India, kemudian
tersebar ke Pakistan dan Bangladesh, negara-negara Arab dan keseluruh dunia. Di
antara negara-negara yang banyak pengikutnya yaitu Mesir, Sudan, Irak,
Bangladesh, Pakistan, Suriah, Yordania, Palestina, Libanon. Pimpinan pusatnya
berkantor di Nizhamuddin, Delhi.
Dalam waktu kurang dari dua dekade,
Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia Selatan. Dengan dipimpin Maulana
Yusuf, putra Maulana Ilyas, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada
tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat
Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara.
C.
PERKEMBANGAN GERAKAN JAMAAH TABLIGH
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya
hanyalah salah satu gerakan dari
perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok ini sekarang sedang mewabah di
seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara
atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena menawarkan format Islam yang
lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas
personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggakan
oleh kapitalisme dan modernisme.
Meskipun demikian, Jamaah Tabligh tetap
menimbulkan kontroversi. Sebagian kalangan menuduh kelompok ini adalah
bagian dari jaringan Islam garis keras. Namun, sebagian lainnya, justru
berpendapat berbeda. Jamaah Tabligh dianggap semata-mata komunitas dakwah yang
bersifat apolitis. Adanya perbedaaan pandangan yang sangat tersebut menunjukkan
komunitasnya ini. sesungguhnya
belum banyak dieksplorasi sehingga tidak mudah dipahami. Hal ini sebenarnya
wajar, mengingat komunitas ini relatif kurang terbuka kepada public.[9]
Jamaah Tabligh di Indonesia meski
tak sepopuler organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah atau NU, namun Jamaah
Tabligh terbilang mempunyai anggota yang cukup banyak. Anggota Jamaah Tabligh
di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari artis sampai dengan tentara,
kalangan profesional dan lain-lain. Pusat
markas Jamaah Tabligh di
Indonesia berada di Jakarta, khususnya di masjid Masjid Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota.
Di masjid yang sudah berusia lebih
dua abad ini, kita akan menjumpai ratusan jamaah yang hampir seluruhnya
berjenggot. Jamaah Tabligh ini berkumpul rutin setiap malam
jum’at, hanya pada malam itu mereka berkumpul di masjid tua di Kebon Jeruk. Mereka juga
menggunakan surban, pakaian takwa dan peci putih, yang biasa dipakai umat Islam
di Indonesia. Tapi kita juga akan mendapati jamaah yang memakai surban dengan
baju panjang sampai lutut, untaian tasbih atau tongkat di tangan, janggut
berjenggot, dahi hitam, dan aroma minyak cendana, khas jamaah dari Asia Timur.
Di Indonesia, Tabligh juga telah menyentuh hati Sakti, personel band Sheila on 7. Pada tahun 2006, dia telah keluar
selama empat bulan ke Markas International Tabligh di Nizzamudin, New Delhi, India. Dia telah berhenti
bermusik, dan memilih menjalankan amalan amalan maqami dan amalan intiqali
dengan sangat intensif. [10]
Dan setelah itu ada juga Vokalis
dari Nineball band,Ray.selain itu pula ada Lukman hakim-gitaris Peterpan. Dan banyak lagi yang bisa jadi
panutan.termasuknya pedangdut Saiful Jamil.[11]
D.
AJARAN-AJARAN ATAU PEMIKIRAN JAMAAH
TABLIGH
Oleh pendiri
Jama’ah telah ditetapkan 6 prinsip yang menjadi asas da’wahnya yaitu:
1. Kalimah agung (merealisasikan syahadat).
2. Menegakkan shalat dengan khusyuk.
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan setiap Muslim.
5. Ikhlas.
6. Berjuang fi sabilillah.
1. Kalimah agung (merealisasikan syahadat).
2. Menegakkan shalat dengan khusyuk.
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan setiap Muslim.
5. Ikhlas.
6. Berjuang fi sabilillah.
a.
Merealisasikan syahadat La ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah.
Menurut Jamaah Tabligh, iman berarti
membenarkan perkataan seseorang dengan pasti karena percaya kepadanya. Secara
istilah iman adalah membenarkan semua yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw,
dengan begitu saja tanpa, melihat secara langsung karena percaya dan yakin
terhadapnya. Sebagai mana yang diterangkan dalam Q.S.Al-Anbiya (21):25.
“Dan kami tidak
mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya:
"Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah
olehmu sekalian akan aku".
Yang dimaksud dengan ayat tersebut
adalah mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan
memasukan keyakinan yang benar terhadap Dzat yang Mencipta, Pemberi rezeki,
Pemberi manfaat, Pemberi bahya, Memuliakan, Menghinakan, Menghidupkan,
Mematikan, Penahan. Mereka memahami kalimat tauhid semakna dengan tauhid
Rububiyyah[12].
Adapun tentang pemaknaan La ilaha illa
Allah dan Muhammad Rasulullah dengan pernyataan bahwa hal itu untuk
mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda yang
mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan memasukkan
yang benar terhadap Dzat Allah, maksudnya manusia yang menyakini Allah dan
mengeluarkan keyakinan dari selain-Nya sebagaimana ayat :
“Niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka jahanam,
dan sesunguhnya benar-benar akan melihatnya dengan pendangan yang menimbulkan
keyakinan”[13]
b. Shalat
dengan Khusyu’.
Dapat mengambil manfaat dari
qudratullah (kuasa Allah) secara langsung, maka wajib melaksanakan perintah
Allah berdasarkan pentunjuk Rasulullah. Perintah yang paling penting dan
sebagai asas adalah menegakkan shalat dengan khusyu. Khusyu adalah takut di
dalam hati dan ketenangan pada anggota tubuh.[14]Jamaah Tabligh sangat
memperhatikan menunaikan shalat bagaimanapun kondisi sibuknya. Perkara ini
dituntut kepada stiap muslim dan pelakunya akan diberi pahala oleh Allah dengan
cara mempelajari dan mengamalkan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya,
sunnah-sunnahnya dan hukum-hukumnya.
c.
Ilmu.
Dan zikir
Untuk dapat mengambil manfaat dari
Allah secara langsung perlu mematuhi semua perintah-Nya menurut cara Nabi
Muhammad SAW, hal ini dapat terwujud dengan berusaha mendapatkan ilmu Ilahi.
Ilmu merupakan harta yang kekal bagi manusia. Bagi Jamaah Tabligh ilmu tentang
hukum-hukum dan masalah-masalah fiqih serta ilmu tauhid, maka mereka perhatikan
dan menghargai[15].
Dalam menjelaskan tentang ilmu, Jamaah
Tabligh mentamsilkannya dengan tingkat kualitas tanah. Tanah ada tiga macam
kualitas begitu juga manusia. Jenis tanah yang pertama adlah yang bisa
mengambil manfaat dari air, sehingga bisa hidup kembali setelah tadinya mati.
Ia pun bisa menumbuhkan tanaman, sehingga manusia an hewan dapat
memanfaatkannya. Jenis manusia pertama adalah manusia yang memperoleh petunjuk
dari ilmu. Jenis tanah yang kedua adalah yang tidak dapat memperoleh manfaat
ntuk dirinya, akan masih berfaedah, yaitu menampung air untuk makhluk-makhluk lain. Sehingga manusia dan
hewan hanya dapat memperoleh manfaat.
Demikian juga jenis manusia yang kedua
yaitu mereka yang memiliki hati yang bagus hafalannya, namun tidak memiliki
pikiran yang cerdas, mereka juga tidak mempunyai kesungguhan dalam
mengamalkannya. Jenis manusia ini memberikan manfaat kepada orang lain dengan
ilmu yang mereka peroleh. Jenis manusia yang ketiga adalah mrerka yang tidak
memiliki hati yang bagus. Ketika mereka mendengar suatu ilmu mereka tiak dapat
memperoleh manfaat darinya hingga tidak dapat memberi manfaat pada yang lain,
hal itu layaknya tanah yang gersang.[16]
e. memuliakan setiap muslim
Ikramul Muslimin (lemah lembut terhadap
kaum muslim) adalah melaksanakan perintah Allah yang berhubungan dengan
hamba-hambanya dengan berpedoman pada petunjuk Nabi Muhammad Saw., dan menjaga
kehormatan umat islam. Orang islam adalah orang-orang yang tunduk dam lembut
perangainya dan mereka sangat patuh terhadap perintah dan larangan Allah.[17][17]
f. Memperbaiki Niat.
Niat adalah melaksanakan segala
perintah Allah untuk mencari keridhaan allah semata dan agar amal bersih dari
riya dan ingin dikenal orang. Setiap orngan islam diwajibkan beramal dengan
yakin terhadap apa yang telah dijanjikan Allah disertai rasa rindu penuh harap
akan pahala dan balasan dari sisi Allah. Mencari keridhaan Allah (ihtisab)
dalam mengerjakan amal-amal shalih dan mengahadapi kesusahan merupakan sikap
bersegera mencari pahala. Cara mendapatkannya adalah dengan tunduk berserah
diri kepada Allah[18][18].
g. Khuruj di
jalan Allah
Untuk memperbaiki keyakinan dan amal
pada diri seseorang dan seluruh umat manusia perlu adanya usaha menghidupkan
kerja Nabi Muhammad Saw., ke seluruh alam sesuai dengan cara beliau, yakni
melalui metode keluar untuk berdakwah dan tabligh[19][19]
Metode da’wah mereka menempuh
jalan berikut :
1.
Sebuah kelompok dari kalangan
Jama’ah, dengan kesadaran sendiri, bertugas melakukan da’wah kepada penduduk
setempat yang dijadikan obyek da’wah. Masing-masing anggota kelompok tersebut
membawa peralatan hidup sederhana dan bekal serta uang secukupnya. Hidup
sederhana merupakan ciri khasnya.
2.
Begitu mereka sampai ke sebuah negeri atau
kampung yang hendak dida’wahi, mereka mengatur dirinya sendiri. Sebagian ada
yang membersihkan tempat yang akan ditinggalinya dan sebagian lagi keluar
mengungjungi kota, kampung, pasar dan warung-warung, sambil berdzikir kepada
Allah. Mereka mengajak orang-orang mendengarkan ceramah atau bayan (menurut
istilali Jama’ah)
3.
Jika saat bayan tiba, mereka semua berkumpul
untuk mendengarkannya. Setelah bayan selesai, para hadirin dibagi menjadi
beberapa kelompok. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang da’i dari Jama’ah.
Kemudian para da’i tersebut mulai mengajari cara berwudhu’, membaca fatihah,
shalat atau membaca al-Qur’an. Mereka membuat halaqat-halaqat seperti itu dan
diulanginya berkali-kali dalam beberapa hari.
4.
Sebelum mereka meninggalkan
tempat da’wah, masyarakat setempat diajak keluar bersama untuk menyampaikan da’wah
ke tempat lain. Beberapa orang secara sukarela menemani mereka selama satu
sampai 3 hari atau sepekan, bahkan ada yang sampai satu bulan. Semua itu
dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing sebagai realisasi firman Allah:
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan ke tengah-tengah manusia.” (Q.S, Ali ‘Imran : 110)
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan ke tengah-tengah manusia.” (Q.S, Ali ‘Imran : 110)
5.
Mereka menolak undangan walimah
(kenduri) yang diselenggarakan penduduk setempat. Tujuannya agar tidak
terganggu oleh masalah-masalah di luar da’wah dan dzikir serta amal perbuatan
mereka tulus karena Allah semata.
6.
Dalam materi da’wah, mereka
tidak memasukkan ide penghapusan kemungkaran. Sebab, mereka meyakini bahwa
sekarang ini masih berada dalam tahap pembentukan kondisi kehidupan yang
Islami. Perbuatan mendobrak kemungkaran, selain sering menimbulkan kendala
dalam perjalanan da’wah mereka, juga membuat orang lari.
7.
Mereka berkeyakinan, jika pribadi-pribadi
telah diperbaiki satu persatu, maka secara otomatis kemungkaran akan hilang.
8.
Keluar, tabligh dan da’wah
merupakan pendidikan praktis untuk menempa seorang da’i. Sebab seorang da’i
harus dapat menjadi qudwah dan harus konsisten dengan da’wahnya.
Mereka memandang taqlid kepada madzhab tertentu adalah wajib.Konsekwensinya mereka melarang ijtihad dengan alasan sekarang ini tidak ada ulama yang memenuhi syarat sebagai seorang Mujtahid. Demikian apa yang saya susun mudah – mudahan akan menjawab semua penasaran kita terhadap jamaah yang sangat mengejutkan kita di ini. Hendaknya kita perlu mnegambil manfaat dari setiap hal yang terjadi fenomena ini mudah – mudahan sanggup membangkitkan adrenalin kita khususnya para dai.
Mereka memandang taqlid kepada madzhab tertentu adalah wajib.Konsekwensinya mereka melarang ijtihad dengan alasan sekarang ini tidak ada ulama yang memenuhi syarat sebagai seorang Mujtahid. Demikian apa yang saya susun mudah – mudahan akan menjawab semua penasaran kita terhadap jamaah yang sangat mengejutkan kita di ini. Hendaknya kita perlu mnegambil manfaat dari setiap hal yang terjadi fenomena ini mudah – mudahan sanggup membangkitkan adrenalin kita khususnya para dai.
E.
KESIMPULAN
Jamaah Tabligh merupakan
gerakan Islam yang telah mendunia. Sejak kemunculannya di India gerakan ini
tetap berada pada perbaikan invidu sebagai fokus utama. Sarana yang digunakan
oleh Jamaah Tabligh adalah para penggerak dakwahnya itu sendiri. Aktivitas
dakwah dibawa secara langsung oleh anggotanya ke berbagai daerah di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia,
Jamaah Tabligh telah tersebar luas. Penyebaran misi ajarannya disampaikan
langsung oleh anggotanya hingga ke pintu rumah objek dakwah mereka.Pada konsep
pemikiran yang dibawa oleh Jamaah Tabligh, kehidupan adalah sebuah aktivitas
peribadahan. Cara menjalani hidup terbaik adalah dengan terus meningkatkan nilai
ibadah dalam kehidupan manusia. Selain terus memperbaiki akhlak dan ibadah,
mengajak orang lain untuk ikut berdakwah di jalan Allah adalah salah satu nilai
yang cukup penting. Konsep lainnya yang khas dari gerakan dakwah ini adalah
pemunculan nilai spiritual dalam setiap aktivitasnya, ibadah yang utama adalah
ibadah yang terdapat pada enam sifat sahabat yang menjadi ajaran pokok Jamaah
Tabligh.
Metode dakwah
yang dibawa oleh Jamaah Tabligh sangat fleksibel dan mudah diterima. Banyak
tantangan terhadap pergerakan dakwah Jamaah Tabligh, hujatan yang sering
berasal dari ulama salafi ternyata ajaran Jamaah Tabligh tidak menyimpang dari
ajaran Rasulullah Saw.
DAFTAR PUSTAKA
Khalimi, ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010),
Sayid Thalibur Rahman, Jamaah Tabligh Fi Syibhil
Qaraah Hindiyah,
www.hidayatullah.com
Majalah As-Sunnah , Edisi 01/Tahun VII/1432H/2003
H As’ad Said Ali, Islamisme Jamaah Tabligh, lihat
di www.nu.or.i
Q.S. Al-Takatsur {102}:6-7
Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab
Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj)
Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
Waqafat
ma’a Jama’at al-Tabligh, Nazar
Al-Jarbu’.
[1] Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2010), hlm. 199.
[3] Al-Jisti
adalah nisbat kepada salah satu thariqat sufi bernama Jistiyyah. Silsilah
thareqat tersebut dimulai dari India, dari seorang sufi bernama Khawaja
Mu’inuddin Al-Jisti.
[6] Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 200.
[8] Khalimi, ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[10]. Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[12] Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 205.
[14] Muhammad
Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat
Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
hlm. 15.
[16] Muhammad
Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat
Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
hlm. 131.
[17]Muhammad
Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat
Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
hlm. 246.
DISUSN OLEH :
KELOMPOK II
1. KISWANI
2. IDA
FADILA
3. NURHALIJA
4. MAULIDYA
DOSEN
PENGAJAR
Drs.FAKHRI,
S.Sos, M.A
JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
TAHUN
2015/2016
GERAKAN
JAMA’AH TABLIGH
OLEH
KELOMPOK
II
A.
PENDAHULUAN
Jamaah Tabligh merupakan pergerakan Islam yang mendunia, hal ini menjadi
fenomena perjuangan Islam di jaman sekarang ini. Saya melihat fenomena pergerakan
Jamaah Tabligh ini sangat cepat dan mudah diterima oleh pengikutnya. Jamaah
Tabligh telah menjadi kelompok Islam tidak hanya di Indonesia di setiap Negara Jamaah ini
ada.
Gerakan islam yang bernama Jamaah Tabligh ini menimbulkan
dua perspektif di kalangan ulama, hal ini merupakan hal biasa. Karena setiap
perspektif ulama atau orang pastilah berbeda-beda tidak selalu sama. Saya akan
mengungkap Jamaah ini termasuk kelompok yang ke arah menyimpang atau kelompok
yang tidak menyimpang.
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya
hanyalah salah satu sekuen dari perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok
ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan
islamisasi di negara-negara atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena
menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta
tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun
mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh kapitalisme dan
modernisme.
Jamaah
Tabligh adalah merupakan
potret gerakan dakwah islam kekinian yang bersifat lintas negara. Islam yang terlihat pada
wajah Jamaah Tabligh adalah santun, rendah hati, dan cenderung menghindar
khilafiyah (perbedaan pendapat). Para aktivitas Jamaah Tabligh (karkun) secara
rajin dan berkesinambungan berkhuruj (keluar) untuk menyampaikan dakwah Islam
dengan cara yang menarik, agar Islam menjadi sistem hidup para pemeluknya di
dalam kehidupan sehari-hari. Agar pemeluk agama Islam melaksanakan ajaran Islam
secara kaffah, secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong, terutama mereka
yang paling giat meramaikan shalat di masjid, perkembangan Jamaah Tabligh di
Indonesia sering di anggap sesat dan menyalahi ajaran Islam.[1]
B.
SEJARAH
BERDIRI SEKALIGUS PENDIRI JAMA’AH TABLIGH
Jamaah Tabligh ("Kelompok
Penyampai") (bahasa Arab: التبليغ
جماعة) adalah gerakan dakwah Islam dengan tujuan
kembali ke ajaran Islam yang kaffah (sempurna). Aktivitas mereka tidak hanya
terbatas pada golongan Islam saja. Tujuan utama gerakan ini adalah
membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim. Jamaah
Tabligh merupakan pergerakan non-politik terbesar di seluruh dunia.[2].
Berbicara sejarah sebuah gerakan Islam,
pastinya lebih mengutamakan sejarah dari tokoh pendirinya itu, karena dari
tokoh yang mendirikan suatu gerakan atau organisasi memegang peran penting,
sejarah Jamaah Tabligh didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muahammad Ilyas bin Muhammad Ismail
al-Kandahlawi al-Deoband al-Jisti [3] di Mewat, sebuah provinsi di India.
Kandahlawi adalah nisbat kepada sebuah kampung yang beranama Kandahla di Saharanpur India[4]. Dia
lahir pada tahun pada tahun 1303 H. Deobandi adalah nisbat kepada Deoband,
salah satu madrasah terbesar bagi pengikut mazhab Hanafi di India. Madrasah ini
didirikan pada tahun 1283 H. Muhammad Ilyas menghabiskan masa kecilnya di
Kandala, sebuah desa di kawasan Muzhaffar naghar di wilayah Uttarpradesh,
India. Ayahnya bernama Muhammad Ismail, tinggal di Nizhamuddin, New Delhi,
India yang kemudian menjadi markas besar Jamaah ini. Muhammad Ilyas meninggal
pada tahun 1364 H.[5].
Muhammad Ilyas tumbuh berkembang di
lingkungan keluarga sangat agamis dan dengan tradisi keilmuan yang sangat
kental. Ayahnya, Muhammad Ismail adalah seorang penganut tasawuf yang sangat
abid dan zahid. Dia telah mengabdikan hidupnya dalam ibadah dan tidak lagi
terlalu disibukkan dengan urusan dunia. Hari-harinya disibukkan dengan
Al-Quran.
Muhammad Ilyas telah hafal Al-Quran
dalam usia yang sangat muda. Dia belajar kepada kakak kandungnya sendiri yang
bernama Syaikh Muhammad Yahya. Selesai itu, dia belajar di madrasah Mahahirul
Ulum, di kota Saharanpur. Dan pada tahun 1326 H, di berangkat ke Deoband.
Sekolah ini terbesar untuk pengikut Imam
Hanafi di anak benua India yang didirikan pada tahun 1283 H/1867 M. Di sini dia
belajar hadist Jami Shahih Turmudzi dan Shahih Bukhari dari seorang alim yang
bernama Mahmud Hasan. Kemudian melanjutkan belajar Kutub al-Sittah pada
kakaknya sendiri, Muhammad Yahya yang wafat pada tahun 1334 H.[6]
Setelah belajar
di Deoband dia ditugaskan sebagai tenaga pengajar di madrasah Madhairul Ulum
pada tahun 1328. Setelah itu dia kembali ke tempat kelahirannya pergi ke hijaz,
Saudi Arabia, untuk menunaikan haji. Sebagai seorang yang memliki kepedulian
yang sangat tinggi pada kelangsungan ajaran Islam, kesempatan menuaikan ibadah
haji ini dia gunakan untuk
bertemu dengan berbagai kalangan ulama
untuk memperbicangkan cara pengembangan terbaik dakwah Islam di India khusunya[7].
Dia pergi ke Madinah dan tidur di
masjid Nabawi selama tiga malam. Di saat itu dia puasa, shalat dan berdoa
meminta petunjuk pada Allah jalan terbaik untuk kelanjutan dakwah Islam.
Kemudian kembali ke India dan memikirkan apa sebenarnya yang telah membuat umat
Islam kehilangan roh Islamnya yang hakiki. Pada saat itu umat Islam India
sedang mengalami kerusakan akidah dan degredasi moral yang sangat dahsyat. Umat
Islam sudah tidak akrab lahi dengan syiar-syiar Islam.
Di samping itu, terjadi percampuran
antara yang hak dan yang batil, antara iman dan syirik, antara sunah dan
bid’ah. Lebih dari itu, juga telah terjadi gelombang permusryikan dan permutadan
didalangi oleh para misionaris Kristen di mana Inggris saat itu sedang bercokol
menjajah India. Gerakan misionaris yang didukung Inggris dengan dana yang
sangat besar itu telah berusaha membolak-balikkan kebenaran Islam, dengan
menghujat ajaran-ajarannya dan mendeskriditkan Rasulullah Saw. Bagaimana
membendung kristenisasi dan mengembalikan kaum Muslimin yang “lepas” ke dalam
pangkuan Islam? Itulah yang menjadi kegelisahan Muhammad Ilyas.
Akhirnya Syaikh Ilyas melihat,
kelangsungan sebuah dakwah dan penyebarannya tidak akan terwujud kecuali dakwah
itu berada di tangan-tangan orang yang benar-benar rela dan ikhlas berkorban
demi kepentingan dakwah hanya mengaharapkan sepenuhnya ridha Allah tanpa
menggantungkan diri bantuan dari manapun. Gerakan ini lebih menekankan meminta
pengorbanan waktu kaum Muslimin dengan melakukan Khuruj (keluar) di jalan Allah
untuk berdakwah daripada memnita pada mereka bantuan uang dan materi.
Di sinilah bagian yang menarik jamaah
ini, dari mana pengorbanan menjadi salah satu tiang utama dalam berdakwah.
Bahkan dalam setiap perjalanan dakwah itu, semua keperluan ditanggung oleh
masing-masing da’i yang bersangkutan.
Sepeninggal Syaikh Muhammad Ilyas
Kandahlawi, kepemimpinan jamaah tabligh diteruskan oleh puteranya, Syaikh
Muhammad Yusuf Kandahlawi (1917-1965), ia dilahirkan di Delhi, dalam mencari
ilmu ia sering berpindah-pindah tempat dan guru sekaligus menyebarkan dakwah.
Ia wafat di Lahore dan jenazahnya dimakamkan di samping orang tuanya di Nizham
al-Din, Delhi. Kitabnya yang terkenal adalah Amani Akhbar, berupa komentar kitab Ma’ani
al-Atsar, karya Syaikh Thahawi dan Hayat al-Shahabah. Kemudian penyebaran
Jamaah Tabligh dilanjutkan oleh Amir yang ketiga yaitu In’am Hasan.
Nama Jamaah Tabligh hanyalah merupakan
sebutan bagi mereka yang sering meyampaiakan, sebenarnya usaha ini tidak
mempunyai nama tetapi cukup islam saja tidak ada yang lain. Bahkan Muhammad
Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan
aku beri nama “gerakan iman”. Ilham untuk mengabdikan hidupnyatotal hanya untuk
islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan ibadah haji keduanya di Hijaz
pada tahun 1926. Maulana Ilyas menyerukan slogannya, “Aye Musalmano!” Musalman
bano” (dalam bahasa urdu), yang artinya “Wahai Umat muslim! Jadilah yang kaffah
(menunaikan semua rukun dan syariah seperti yang dicontohkan Rasulullah).[8]Tabligh
resminya bukan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim
yang menjalankan agamanya dan hanya satu-satunya gerakan islam yang tidak memandang
asal-usul mazhab atau aliran pengikutnya.
Jamaah ini muncul di India, kemudian
tersebar ke Pakistan dan Bangladesh, negara-negara Arab dan keseluruh dunia. Di
antara negara-negara yang banyak pengikutnya yaitu Mesir, Sudan, Irak,
Bangladesh, Pakistan, Suriah, Yordania, Palestina, Libanon. Pimpinan pusatnya
berkantor di Nizhamuddin, Delhi.
Dalam waktu kurang dari dua dekade,
Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia Selatan. Dengan dipimpin Maulana
Yusuf, putra Maulana Ilyas, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada
tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat
Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara.
C.
PERKEMBANGAN GERAKAN JAMAAH TABLIGH
Merebaknya Jamaah Tabligh sebenarnya
hanyalah salah satu gerakan dari
perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok ini sekarang sedang mewabah di
seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara
atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena menawarkan format Islam yang
lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas
personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggakan
oleh kapitalisme dan modernisme.
Meskipun demikian, Jamaah Tabligh tetap
menimbulkan kontroversi. Sebagian kalangan menuduh kelompok ini adalah
bagian dari jaringan Islam garis keras. Namun, sebagian lainnya, justru
berpendapat berbeda. Jamaah Tabligh dianggap semata-mata komunitas dakwah yang
bersifat apolitis. Adanya perbedaaan pandangan yang sangat tersebut menunjukkan
komunitasnya ini. sesungguhnya
belum banyak dieksplorasi sehingga tidak mudah dipahami. Hal ini sebenarnya
wajar, mengingat komunitas ini relatif kurang terbuka kepada public.[9]
Jamaah Tabligh di Indonesia meski
tak sepopuler organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah atau NU, namun Jamaah
Tabligh terbilang mempunyai anggota yang cukup banyak. Anggota Jamaah Tabligh
di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari artis sampai dengan tentara,
kalangan profesional dan lain-lain. Pusat
markas Jamaah Tabligh di
Indonesia berada di Jakarta, khususnya di masjid Masjid Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota.
Di masjid yang sudah berusia lebih
dua abad ini, kita akan menjumpai ratusan jamaah yang hampir seluruhnya
berjenggot. Jamaah Tabligh ini berkumpul rutin setiap malam
jum’at, hanya pada malam itu mereka berkumpul di masjid tua di Kebon Jeruk. Mereka juga
menggunakan surban, pakaian takwa dan peci putih, yang biasa dipakai umat Islam
di Indonesia. Tapi kita juga akan mendapati jamaah yang memakai surban dengan
baju panjang sampai lutut, untaian tasbih atau tongkat di tangan, janggut
berjenggot, dahi hitam, dan aroma minyak cendana, khas jamaah dari Asia Timur.
Di Indonesia, Tabligh juga telah menyentuh hati Sakti, personel band Sheila on 7. Pada tahun 2006, dia telah keluar
selama empat bulan ke Markas International Tabligh di Nizzamudin, New Delhi, India. Dia telah berhenti
bermusik, dan memilih menjalankan amalan amalan maqami dan amalan intiqali
dengan sangat intensif. [10]
Dan setelah itu ada juga Vokalis
dari Nineball band,Ray.selain itu pula ada Lukman hakim-gitaris Peterpan. Dan banyak lagi yang bisa jadi
panutan.termasuknya pedangdut Saiful Jamil.[11]
D.
AJARAN-AJARAN ATAU PEMIKIRAN JAMAAH
TABLIGH
Oleh pendiri
Jama’ah telah ditetapkan 6 prinsip yang menjadi asas da’wahnya yaitu:
1. Kalimah agung (merealisasikan syahadat).
2. Menegakkan shalat dengan khusyuk.
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan setiap Muslim.
5. Ikhlas.
6. Berjuang fi sabilillah.
1. Kalimah agung (merealisasikan syahadat).
2. Menegakkan shalat dengan khusyuk.
3. Ilmu dan dzikir.
4. Memuliakan setiap Muslim.
5. Ikhlas.
6. Berjuang fi sabilillah.
a.
Merealisasikan syahadat La ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah.
Menurut Jamaah Tabligh, iman berarti
membenarkan perkataan seseorang dengan pasti karena percaya kepadanya. Secara
istilah iman adalah membenarkan semua yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw,
dengan begitu saja tanpa, melihat secara langsung karena percaya dan yakin
terhadapnya. Sebagai mana yang diterangkan dalam Q.S.Al-Anbiya (21):25.
“Dan kami tidak
mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya:
"Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah
olehmu sekalian akan aku".
Yang dimaksud dengan ayat tersebut
adalah mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan
memasukan keyakinan yang benar terhadap Dzat yang Mencipta, Pemberi rezeki,
Pemberi manfaat, Pemberi bahya, Memuliakan, Menghinakan, Menghidupkan,
Mematikan, Penahan. Mereka memahami kalimat tauhid semakna dengan tauhid
Rububiyyah[12].
Adapun tentang pemaknaan La ilaha illa
Allah dan Muhammad Rasulullah dengan pernyataan bahwa hal itu untuk
mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda yang
mengeluarkan keyakinan yang rusak dari hati kepada benda-benda dan memasukkan
yang benar terhadap Dzat Allah, maksudnya manusia yang menyakini Allah dan
mengeluarkan keyakinan dari selain-Nya sebagaimana ayat :
“Niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka jahanam,
dan sesunguhnya benar-benar akan melihatnya dengan pendangan yang menimbulkan
keyakinan”[13]
b. Shalat
dengan Khusyu’.
Dapat mengambil manfaat dari
qudratullah (kuasa Allah) secara langsung, maka wajib melaksanakan perintah
Allah berdasarkan pentunjuk Rasulullah. Perintah yang paling penting dan
sebagai asas adalah menegakkan shalat dengan khusyu. Khusyu adalah takut di
dalam hati dan ketenangan pada anggota tubuh.[14]Jamaah Tabligh sangat
memperhatikan menunaikan shalat bagaimanapun kondisi sibuknya. Perkara ini
dituntut kepada stiap muslim dan pelakunya akan diberi pahala oleh Allah dengan
cara mempelajari dan mengamalkan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya,
sunnah-sunnahnya dan hukum-hukumnya.
c.
Ilmu.
Dan zikir
Untuk dapat mengambil manfaat dari
Allah secara langsung perlu mematuhi semua perintah-Nya menurut cara Nabi
Muhammad SAW, hal ini dapat terwujud dengan berusaha mendapatkan ilmu Ilahi.
Ilmu merupakan harta yang kekal bagi manusia. Bagi Jamaah Tabligh ilmu tentang
hukum-hukum dan masalah-masalah fiqih serta ilmu tauhid, maka mereka perhatikan
dan menghargai[15].
Dalam menjelaskan tentang ilmu, Jamaah
Tabligh mentamsilkannya dengan tingkat kualitas tanah. Tanah ada tiga macam
kualitas begitu juga manusia. Jenis tanah yang pertama adlah yang bisa
mengambil manfaat dari air, sehingga bisa hidup kembali setelah tadinya mati.
Ia pun bisa menumbuhkan tanaman, sehingga manusia an hewan dapat
memanfaatkannya. Jenis manusia pertama adalah manusia yang memperoleh petunjuk
dari ilmu. Jenis tanah yang kedua adalah yang tidak dapat memperoleh manfaat
ntuk dirinya, akan masih berfaedah, yaitu menampung air untuk makhluk-makhluk lain. Sehingga manusia dan
hewan hanya dapat memperoleh manfaat.
Demikian juga jenis manusia yang kedua
yaitu mereka yang memiliki hati yang bagus hafalannya, namun tidak memiliki
pikiran yang cerdas, mereka juga tidak mempunyai kesungguhan dalam
mengamalkannya. Jenis manusia ini memberikan manfaat kepada orang lain dengan
ilmu yang mereka peroleh. Jenis manusia yang ketiga adalah mrerka yang tidak
memiliki hati yang bagus. Ketika mereka mendengar suatu ilmu mereka tiak dapat
memperoleh manfaat darinya hingga tidak dapat memberi manfaat pada yang lain,
hal itu layaknya tanah yang gersang.[16]
e. memuliakan setiap muslim
Ikramul Muslimin (lemah lembut terhadap
kaum muslim) adalah melaksanakan perintah Allah yang berhubungan dengan
hamba-hambanya dengan berpedoman pada petunjuk Nabi Muhammad Saw., dan menjaga
kehormatan umat islam. Orang islam adalah orang-orang yang tunduk dam lembut
perangainya dan mereka sangat patuh terhadap perintah dan larangan Allah.[17][17]
f. Memperbaiki Niat.
Niat adalah melaksanakan segala
perintah Allah untuk mencari keridhaan allah semata dan agar amal bersih dari
riya dan ingin dikenal orang. Setiap orngan islam diwajibkan beramal dengan
yakin terhadap apa yang telah dijanjikan Allah disertai rasa rindu penuh harap
akan pahala dan balasan dari sisi Allah. Mencari keridhaan Allah (ihtisab)
dalam mengerjakan amal-amal shalih dan mengahadapi kesusahan merupakan sikap
bersegera mencari pahala. Cara mendapatkannya adalah dengan tunduk berserah
diri kepada Allah[18][18].
g. Khuruj di
jalan Allah
Untuk memperbaiki keyakinan dan amal
pada diri seseorang dan seluruh umat manusia perlu adanya usaha menghidupkan
kerja Nabi Muhammad Saw., ke seluruh alam sesuai dengan cara beliau, yakni
melalui metode keluar untuk berdakwah dan tabligh[19][19]
Metode da’wah mereka menempuh
jalan berikut :
1.
Sebuah kelompok dari kalangan
Jama’ah, dengan kesadaran sendiri, bertugas melakukan da’wah kepada penduduk
setempat yang dijadikan obyek da’wah. Masing-masing anggota kelompok tersebut
membawa peralatan hidup sederhana dan bekal serta uang secukupnya. Hidup
sederhana merupakan ciri khasnya.
2.
Begitu mereka sampai ke sebuah negeri atau
kampung yang hendak dida’wahi, mereka mengatur dirinya sendiri. Sebagian ada
yang membersihkan tempat yang akan ditinggalinya dan sebagian lagi keluar
mengungjungi kota, kampung, pasar dan warung-warung, sambil berdzikir kepada
Allah. Mereka mengajak orang-orang mendengarkan ceramah atau bayan (menurut
istilali Jama’ah)
3.
Jika saat bayan tiba, mereka semua berkumpul
untuk mendengarkannya. Setelah bayan selesai, para hadirin dibagi menjadi
beberapa kelompok. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang da’i dari Jama’ah.
Kemudian para da’i tersebut mulai mengajari cara berwudhu’, membaca fatihah,
shalat atau membaca al-Qur’an. Mereka membuat halaqat-halaqat seperti itu dan
diulanginya berkali-kali dalam beberapa hari.
4.
Sebelum mereka meninggalkan
tempat da’wah, masyarakat setempat diajak keluar bersama untuk menyampaikan da’wah
ke tempat lain. Beberapa orang secara sukarela menemani mereka selama satu
sampai 3 hari atau sepekan, bahkan ada yang sampai satu bulan. Semua itu
dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing sebagai realisasi firman Allah:
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan ke tengah-tengah manusia.” (Q.S, Ali ‘Imran : 110)
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan ke tengah-tengah manusia.” (Q.S, Ali ‘Imran : 110)
5.
Mereka menolak undangan walimah
(kenduri) yang diselenggarakan penduduk setempat. Tujuannya agar tidak
terganggu oleh masalah-masalah di luar da’wah dan dzikir serta amal perbuatan
mereka tulus karena Allah semata.
6.
Dalam materi da’wah, mereka
tidak memasukkan ide penghapusan kemungkaran. Sebab, mereka meyakini bahwa
sekarang ini masih berada dalam tahap pembentukan kondisi kehidupan yang
Islami. Perbuatan mendobrak kemungkaran, selain sering menimbulkan kendala
dalam perjalanan da’wah mereka, juga membuat orang lari.
7.
Mereka berkeyakinan, jika pribadi-pribadi
telah diperbaiki satu persatu, maka secara otomatis kemungkaran akan hilang.
8.
Keluar, tabligh dan da’wah
merupakan pendidikan praktis untuk menempa seorang da’i. Sebab seorang da’i
harus dapat menjadi qudwah dan harus konsisten dengan da’wahnya.
Mereka memandang taqlid kepada madzhab tertentu adalah wajib.Konsekwensinya mereka melarang ijtihad dengan alasan sekarang ini tidak ada ulama yang memenuhi syarat sebagai seorang Mujtahid. Demikian apa yang saya susun mudah – mudahan akan menjawab semua penasaran kita terhadap jamaah yang sangat mengejutkan kita di ini. Hendaknya kita perlu mnegambil manfaat dari setiap hal yang terjadi fenomena ini mudah – mudahan sanggup membangkitkan adrenalin kita khususnya para dai.
Mereka memandang taqlid kepada madzhab tertentu adalah wajib.Konsekwensinya mereka melarang ijtihad dengan alasan sekarang ini tidak ada ulama yang memenuhi syarat sebagai seorang Mujtahid. Demikian apa yang saya susun mudah – mudahan akan menjawab semua penasaran kita terhadap jamaah yang sangat mengejutkan kita di ini. Hendaknya kita perlu mnegambil manfaat dari setiap hal yang terjadi fenomena ini mudah – mudahan sanggup membangkitkan adrenalin kita khususnya para dai.
E.
KESIMPULAN
Jamaah Tabligh merupakan
gerakan Islam yang telah mendunia. Sejak kemunculannya di India gerakan ini
tetap berada pada perbaikan invidu sebagai fokus utama. Sarana yang digunakan
oleh Jamaah Tabligh adalah para penggerak dakwahnya itu sendiri. Aktivitas
dakwah dibawa secara langsung oleh anggotanya ke berbagai daerah di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia,
Jamaah Tabligh telah tersebar luas. Penyebaran misi ajarannya disampaikan
langsung oleh anggotanya hingga ke pintu rumah objek dakwah mereka.Pada konsep
pemikiran yang dibawa oleh Jamaah Tabligh, kehidupan adalah sebuah aktivitas
peribadahan. Cara menjalani hidup terbaik adalah dengan terus meningkatkan nilai
ibadah dalam kehidupan manusia. Selain terus memperbaiki akhlak dan ibadah,
mengajak orang lain untuk ikut berdakwah di jalan Allah adalah salah satu nilai
yang cukup penting. Konsep lainnya yang khas dari gerakan dakwah ini adalah
pemunculan nilai spiritual dalam setiap aktivitasnya, ibadah yang utama adalah
ibadah yang terdapat pada enam sifat sahabat yang menjadi ajaran pokok Jamaah
Tabligh.
Metode dakwah
yang dibawa oleh Jamaah Tabligh sangat fleksibel dan mudah diterima. Banyak
tantangan terhadap pergerakan dakwah Jamaah Tabligh, hujatan yang sering
berasal dari ulama salafi ternyata ajaran Jamaah Tabligh tidak menyimpang dari
ajaran Rasulullah Saw.
DAFTAR PUSTAKA
Khalimi, ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010),
Sayid Thalibur Rahman, Jamaah Tabligh Fi Syibhil
Qaraah Hindiyah,
www.hidayatullah.com
Majalah As-Sunnah , Edisi 01/Tahun VII/1432H/2003
H As’ad Said Ali, Islamisme Jamaah Tabligh, lihat
di www.nu.or.i
Q.S. Al-Takatsur {102}:6-7
Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab
Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat Utama,(terj)
Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
Waqafat
ma’a Jama’at al-Tabligh, Nazar
Al-Jarbu’.
[1] Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta: Gaung Persada
Press, 2010), hlm. 199.
[3] Al-Jisti
adalah nisbat kepada salah satu thariqat sufi bernama Jistiyyah. Silsilah
thareqat tersebut dimulai dari India, dari seorang sufi bernama Khawaja
Mu’inuddin Al-Jisti.
[6] Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 200.
[8] Khalimi, ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[10]. Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 202.
[12] Khalimi,
ORMAS-ORMAS
ISLAM (Sejarah, AkarTeologi dan Politik, (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2010), hlm. 205.
[14] Muhammad
Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat
Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
hlm. 15.
[16] Muhammad
Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat
Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
hlm. 131.
[17]Muhammad
Yusuf Al-Kandahlawi, Muntakhab Ahadist; Dalil-dalil Pilihan Enam Sifat
Utama,(terj) Ahmad Nur Khalis Al-Adib, Munjahid, (Yogyakarta:Al-Shaff, 2006),
hlm. 246.